Translate

Selasa, 07 Januari 2020

WAKTU BELUM BERPIHAK


Seorang perempuan dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil berbalut jaket jeans tengah berjalan menuju sebuah meja dengan seorang penghuni, laki-laki berjaket hitam. Segelas milkshake coklat yang tinggal setengah terdapat di mejanya, tanda laki-laki itu sudah lama menunggu. Seulas senyum ia tunjukkan begitu mata almond laki-laki itu menatapnya.

Sang laki-laki berdiri, menyambut hangat gadis itu dengan pelukan. “Aku kira kamu nggak dateng,” ucapnya dan menarik kursi untuk gadis berambut sebahu itu duduk. “Mau minum apa?” ia lanjut bertanya.
“Nanti aja,” jawab gadis itu setelah duduk. Masih tersenyum, ditatapnya laki-laki itu lekat-lekat.
“Kenapa?” tanyanya seraya balas memandang lensa coklat pekat milik perempuan di hadapannya.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia merasa deja vu. Suasana di dalam restoran pun sama: pencahayaan remang-remang dengan latar belakang musik klasik, seolah telah menjadi ciri khas tempat tersebut. Malam ini, terasa seperti sore itu. Dua bulan yang lalu.

“Aku mau kita putus,” tukasnya tanpa melihat kekasihnya.
Tubuh tegap sang laki-laki menegak, terkejut akan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?”
“Aku mau berhenti, Hadi.” Suara gadis itu bergetar, disusul dengan isakan kecil yang semakin menjadi.
Laki-laki itu, Hadi, mengamil tangan perempuan itu dan menggenggamnya. “Hei… kita udah sejauh ini, inget? Jangan nyerah, ya? Aku mohon?” bujuknya dengan halus.
“Harus sampai kapan, Dan?” ia bertanya di sela tangisnya.
“Sebentar lagi. Aku mohon bantu aku.” Hadi memelas. Dilepasnya genggaman itu, beringsut dari duduknya, dan beralih memegang kedua bahu gadis mungil di hadapannya. Ia tersenyum. “Aku mohoh… ya?”

“Dewi?”
Dewi, gadis itu, mengerjap. “Iya, Di?”
Laki-laki itu terkekeh, dicubitnya pipi tembam Dewi. “Kenapa malah ngelamun?”
“Nggak apa-apa,” jawab Dewi sekenanya.

Hadi tahu fakta itu: “saat seorang perempuan berkata “tidak apa-apa” berarti dia sedang tidak baik-baik saja”. Maka dari itu, ia diam. Membiarkan Dewi berkelit dengan pikirannya sendiri, membiarkan gadis itu menenangkan diri terlebih dulu. Meski diam-diam, ia berpikir:
Apa masalah yang sedang mendera Dewi?

Hening menghiasi kedua orang itu untuk sesaat. Sebelum akhirnya gadis itu berujar, “Kamu… kenapa minta ketemu dadakan, gini?”
Hadi menggeleng dan tersenyum. “Salah ya kalo aku cuma mau ketemu sama pacar aku sendiri?”
Mendengar laki-laki itu menyebutkan kata “pacar”, membuatnya teringat akan sesuatu. “Kemarin, kamu kemana waktu aku telepon?”

Ada jeda sejenak sebelum Hadi menjawab, “Maaf.”
Dan hanya karena satu kata itu, Dewi tahu artinya apa.

Lagi, ia menyunggingkan senyum. “Tau nggak, Di? Waktu kamu minta aku buat jadi pacar kamu, aku kaget sekaligus bingung; apa aku harus nolak atau nerima? Karena gimanapun juga, aku nggak mau persahabatan yang udah terjalin dari kita kecil, hancur nantinya. Tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa bohongin perasaanku sendiri.

“Waktu kamu putus sama Gina, aku seneng. Maaf kalo aku jahat. Tapi, ya tadi, aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Maka dari itu, setelah mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun. Aku meyakinkan diri buat nerima kamu.

“Nggak nyangka ya, Di! Udah setahun lebih. Seharusnya aku seneng bisa jadi pacar kamu. Tapi, kenapa makin kesini makin menyakitkan?”
Gadis itu diam sejenak, mengambil napas untuk mengisi dadanya yang mulai sesak.

“Dulu, aku terlalu percaya diri bisa buat kamu move on. Tapi nyatanya? Kemarin kamu kelihatan seneng banget waktu ketemu Gina di mall.”
Mata Hadi melebar mendengarnya.

“Iya, aku tau. Nggak pa-pa.”
“Dewi..”
“Kamu… masih terjebak di jurang masa lalu, Hadi. Kamu minta tolong aku buat meraih tangan kamu, sekuat tenaga aku coba untuk mengulurkan tangan agar kamu meraihnya. Nyatanya, kamu Cuma diam di sana tanpa mau berusaha naik agar mencapai tanganku. Mau sampai kapanpun, kalau kamu terus seperti itu, tangan kita nggak akan pernah saling menggenggam. Sederhananya, kamu masih nyaman berada di jurang itu, Di.”
Laki-laki itu diam. Dalam hati, ia membenarkan apa yang Dewi ucapkan. Tapi itu dulu, sebelum ia bertemu Gina kemarin.

“Aku mau nyerah aja.” Buliran bening mulai menumpuk di pelupuk mata gadis itu. “Aku nyerah, Dan.”

Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Dia berlutut di depan perempuan yang matanya semakin memerah karena menahan tangis, pelan-pelan, diraihnya tangan Dewi. Gadis itu berusaha menolak, namun genggaman Hadi mengerat. “Sebentar lagi, ya? Please?”

Setetes air mata lolos membasahi pipi tembam Dewi. Dia menggeleng lemah. “Nggak bisa…” suaranya terdengar lirih, seakan tidak memiliki tenaga lagi.

Hadi mendesah kecewa. Dia terlambat.
Dengan berat hati, ia mengangguk. Padahal, kemarin ia bertemu Gina hanya untuk memastikan. Dan terbukti, bahwa perasaannya telah berpindah kepada sahabat masa kecilnya itu, Dewi. Namun, ia tidak mau menyakiti gadis itu lebih lagi. Dewi telah melakukan banyak untuknya.
Sekarang, ia akan berusaha sendiri. Untuk Dewi. Tanpa orang lain tahu, tanpa gadis itu tahu. Ia harap, suatu saat, waktu akan berpihak kepada mereka berdua.

“Maaf ya,” ucapnya pada Dewi. “Maaf udah nyakitin kamu. Maaf buat semuanya.” Diusapnya sisa air mata gadis itu.
Dewi tertawa purau, dia mengangguk. Perasaan lega menelusup ke dalam dadanya. Bukan berarti ia tidak mencintai laki-laki itu lagi. Hanya saja, ia lelah berpacaran dengan seseorang yang tidak mencintainya. Padahal, tanpa gadis itu tahu, persepsinya salah. Dan mungkin, waktu belum berpihak kepada mereka berdua.
“Tapi kita tetep sahabat, kan?” Hadi bertanya, dibalas anggukan oleh Dewi. Lantas keduanya tertawa dan bercanda pada sisa malam itu.

“Kadang memang selucu itu. Berakhirnya sebuah hubungan akan membentuk hubungan baru, membaik atau memburuk, tergantung pada kedewasaan masing-masing pihak”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar