“Hujan tak pernah cengeng”.
Begitu katanya. Dingin, menusuk, tanpa perasaan. Itu kalimat terpanjang yang dia ucapkan setelah lima menit datang, menepuk dahinya sendiri, lantas terdiam. Dia duduk di ujung bangku sebelah kanan, menopang dagunya dengan dua kepal tangannya yang disatukan sementara ujung lengannya menyentuh ujung paha. Badannya sedikit membungkuk seperti pose orang-orang cerdas sedang termenung dan memikirkan keputusan penting. Sayangnya, dia tidak cerdas. Tidak juga pintar membaca perasaan.
“Kamu masih sedih? Berulangkali harus kukatakan, tak perlu ada yang disedihkan dari perpisahan. Itu lumrah, kan?”
Aku menatapnya sengit. Dia tidak merasakan kesedihan ini masalahnya. Seenaknya ngomong, seenaknya mencela, seenaknya pula sok-sokan menasehati. Kalau saja ada seseorang yang lebih bisa kuandalkan daripadanya, aku jelas takkan menghubunginya, terlebih di saat-saat seperti ini.
“Dia lebih memilih pergi kan? Ya sudah. Berarti dia tidak pernah memilihmu. Dia mementingkan dirinya sendiri dibanding kamu. Apa lagi? Mau nangis sampai kapan coba?”
Omelannya menjengkelkan. Tak membantu. Sungguh. Ingin sekali aku berteriak dan mengatakan padanya bahwa bukan omelan menyebalkan seperti itu yang kubutuhkan. Aku hanya ingin ada teman. Hanya ingin ada seseorang yang tahu bahwa aku bisa kembali berdiri, serapuh apapun keadaan yang menderaku. Sayangnya, lagi-lagi, aku salah memilih orang. Selalu dia yang pertama kali kuhubungi. Selalu nomornya yang teringat di kepalaku. Lalu, tanpa pernah menunggu lama, dia datang, duduk sebentar, mengamati, lantas ngomel panjang lebar setelah lama mendiamkan.
“Kamu tuh lucu. Orang nggak ada rasa sama kamu masih saja kamu kejar. Sapi saja tak akan masuk ke lubang yang sama dua kali. Kamu? Berulangkali. Ngeyel sih! Tak pernah mau dengar kata orang.”
Mataku masih berderai. Tapi kali ini bercampur satu hal lagi. Ocehannya yang mendadak terasa benar meskipun menusuk jiwa raga.
“Sekarang, aku janji ini untuk terakhir kalinya aku datang jika masalahmu masih saja berurusan dengannya. Ini janjiku, Hadi. Aku takkan lagi mau datang jika tangismu hanya karena dia.”
Aku menghela napas panjang dengan mata terpejam. Perih ini menjadi. Baru beberapa saat lalu seseorang yang sejak dulu kuanggap matahari pergi meninggalkanku. Alasannya sederhana. Dia harus lebih meningkatkan kualitas eksistensi keilmuannya. Beberapa menit dari sekarang, dia akan terbang ke daratan antah berantah. Mengepakkan sayapnya sendiri, mengabaikan semua usahaku untuk mendekati, dan kini aku seperti debu yang merana di bandara.
Setidaknya, aku tahu diri untuk tak berlama-lama di bangku tunggu ini. Orang-orang lalu lalang. Kendaraan melaju dan berhenti menurunkan dan mengambil penumpang. Aku tahu bahwa banyak di antara mereka melihatku, menertawakan tangisku, tapi aku tak peduli. Aku tak bisa bersikap seperti Juliet yang mengejar Romeo, berteriak bahwa aku mencintainya. Semua terasa sangat asing sekarang. Perasaan ini. Rasa kehilangan ini. Seperti dandelion yang dihembus kencang dan berhamburan entah kemana. Aku keping dari diriku yang utuh. Dia telah pergi. Dan aku telah menjadi separuh hati.
“Aku gak bawa sapu tangan ataupun tisue. Adanya cuma ini. Nih, pake!” Dia menyodorkan sebuah kaos padaku. Warna hitam. Tipikal. Mataku bertanya. Ujung dahunya terangkat seolah mengisyaratkan bahwa sudah seharusnya aku menyusut air mataku dengan kaosnya.
“Aku tunggu lima menit. Kamu segera benahi penampilanmu. Tuh, ada water closet di sebelah sana…”
Dia menunjuk sebuah tempat. Aku mengusap hidungku. Beranjak. Tanpa kata. Ini kali kelima aku menghubunginya dan selalu berakhir seperti ini. Aku tahu persis, setelah aku beres dengan membenahi penampilan, dia akan segera melarikan mobilnya ke toko kue, membiarkan aku merampok isi toko tersebut diselingi dengan dua gelas medium ice moccacino.
Hanya aku. Dia tidak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar