Translate

Jumat, 03 Januari 2020

“SEANDAINYA, RINDU ITU BERBAHASA"


Dia menemukannya pada salah satu gambar. Pada satu layar yang memuat dengan jelas keceriaan dan keakraban. Sepertinya sebuah pertemuan. Reuni. Ada banyak orang. Ada banyak tawa dengan ekspresi bermacam rupa. Juga berlimpah makanan yang digenggam, juga disajikan.
Jadi seperti ini? Syukurlah. Setidaknya dia bahagia. Sepertinya.
Tangannya kembali menutup aplikasi. Sedikit menggeser jemarinya ke icon note dan mulai menyusun kata. Ada sesuatu yang harus ia salurkan. Ada sesuatu yang melompat seketika dari pikirannya. Ia tahu, jika diabaikan, loncatan itu hanya akan berakhir seperti debu diterbangkan angin. Tanpa makna. Tanpa rasa.
Jadi, sudah seperti inikah warna hari? Tak perlu ada pelangi karena hujan tak kunjung tiba. Tak perlu ada semi karena musim sudah jauh tertinggal di belakang. Semua seperti kembali pada awal mula. Dari asing menuju asing. Dari biasa menuju terbiasa.
Matanya sedikit menerawang. Diperhatikannya kembali gambar itu sekilas sebelum menutupnya.
Bahkan untuk memandangmu pun, aku selalu tak bisa lebih lama dari sedetik!
Jalanan masih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan kecepatan lumayan. Hari Ahad seperti sekarang sedikit sekali orang yang mau keluar. Sepertinya, semua orang menyepakati jika inilah saat untuk bersama-sama dengan keluarga di rumah, sekedar bercengkrama, menghabiskan quality time dengan orang terkasih. Tapi, kesunyian yang merajam tetap takkan terganti. Itulah sebab dia keluar. Menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah kafe di depan mall, menyesap (mengisap seperti burung) double espresso, dan memantau lini masa dari tab-nya. Bahkan aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan rindu. Kosakata itu terlalu tua di bibirku yang tak punya kekuatan untuk berkata.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kuungkapkan meski ketergesaan seringkali membunuh dan merampas hidup. Aku ada. Hari ini. Menjalani hari masih dengan semangat matahari. Tak lelah. Tak ragu. Tak undur meski kadang banyak penghalang jalan.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kusampaikan. Sekadar menguraikan penat yang bersarang atau untuk bersapa ria pada dunia. Aku ada. Hanya seringkali tak disadari karena aku seperti sembunyi. Karena, dalam ketakterdeteksian angka-angka dan rupa, aku menemukan diri menjadi lebih berbeda. Setidaknya, agar aku belajar mengenal kosakata itu lebih dari siapa pun yang pernah mengecap rasanya. Untuknya, yang dekat di mata hangat di hati, tapi tak pernah bisa mengungkapkannya. Kosakata rindu masih terlalu liat di bibirku yang tak mengenal keberanian untuk berujar.

aku tahu kamu tak mau mengaku.
aku tahu kamu sudah lama rindu.
pada diriku, teman baikmu, yang sebenarnya juga lama menunggumu.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya
engkau tahu aku memang agak pemalu.
engkau tahu aku yang juga merindu.
pada dirimu, teman baikku, yang seharusnya juga tahu tentang aku.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya.
Dan tak perlu tahu sejauh itu untuk tahu bahwa rindu kadang tak bisa dibahasakan….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar