Translate

Rabu, 08 Januari 2020

TERPENDAM


"Tanpa Sebab Aku Mencintaimu"
Malam mulai menjelang, sang surya yang terang benderang tadi terganti oleh redupnya sang rembulan, di teras rumah di kursi reot hasil bikinanku tiga tahun yang lalu aku duduk termenung, hanya diteman gitar tua diseblahku.  “Hmmm.. aku masih jomblo” gumanku dalam hati. Sesekali tetangga yang lewat di depan rumah menyapaku, aku hanya menjawab sekenanya saja karena aku sedang malas beramah ria saat ini. Aku ingin menikmati kesendirianku karena memang sekarang aku lagi sendiri tanpa ada satu hati pun yang mengisi hari-hari ku.
Kenangan tentang mantan kekasih yang tiga tahun lalu memutusku melintas dalam benaku, aku berharap bisa mengusir bayangan itu dari benaku, memang tidak sepenuhnya berhasil tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Satu dua motor yang lewat hanya tambah membuatku merasa iri, mengapa sampai lulus MA aku belum pernah merasakan punya motor, ego mudaku mengalahkan realita aku tidak mau menyadari keadaan ekonomi keluarga kami, padahal untuk menyekolahkanku sampai lulus MA saja bapak harus rela berpanas-panasan di proyek dan ibu harus ikhlas berletih mencuci pakain tetangga. Gara-gara tidak punya motor inilah tiga tahun lalu aku diputusin, setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku, memang dia tidak mengungkapakan alasan ini sebagai alasan memutusku, tapi selang satu hari setelah dia memutuskan cintanya aku melihat dia sedang menggelayut mesra di punggung seorang cowok di atas motor bagiku itulah bukti otentik yang tersirat walau tidak tersurat.
Dari arah selatan rumah terdengar suara motor seakan mengejek dan menertawaiku, kuraih gitar usang yang sejak tadi tergeletak di sampingku memang benda ini lah satu-satunya sahabat sejatiku gitar usang ini siap setiap saat menemaniku dalam suka maupun duka, dulu ketika masih bersama orang yang kin telah menjadi mantan kekasihku kami sering bernyanyi bersama dengan ditemani benda ini, sekarang aku sedang sendiri juga ditemani benda ini.
Aku ingin memainkan gitar ini sekeras-kerasnya agar suara mesin motor yang makin lama makin mendekat tidak terdengar di telingaku, dan motor itu lewat juga di depanku tapi ada yang istimewa, bukan motornya tapi pengendaranya kulihat seorang gadis sedang belajar naik motor diajari oleh bapaknya. Aku kenal bapaknya tapi tidak tahu kalau bapak itu punya anak gadis karena memang tetangga jauh jadi wajar saja kalau aku tidak tau.
Tiba-tiba ada perasaan aneh menjalar di hatiku entah mengapa aku ingin tau lebih banyak tentang anak gadis itu, segera otaku kupaksa untuk berpikir keras bagaimana caranya aku dapat informasi tentang anak gadis bapak itu sampai akhirnya aku menemukan caranya. Tempat nongkrong… ya tempat itulah satu-satunya cara agar aku bisa menggali informasi tentang anak gadis itu, Aku pun segera berdiri kusambar sepeda onthelku ku kayuh menuju tempat nongkrong di pertigaan dekat warung.


“Tumben datang terlambat biasanya kau absen paling dulu” tegur Reza.
“Biasa Za…. kasih kesempatan teman yang lain masak predikat pecangkruk teladan selalu aku raih sekali- kali temen yang lainya lah” jawabku berdiplomasi.
“Ah paling kau habis diceramahi Bapakmu ya?” Andre ikut menimpali.
“Sembarangan aja gini-gini Aku anak kesayangan tau” jawabku.
“Kesayangan apa? Kemarin buktinya kau habis disiram air” Andre tidak mau kalah.
“Itu biar aku subur, tanaman kalau sering disiram kan jadi subur” Kelitku, padahal benar kata Andre kemarin Aku habis di siram air tapi bukan karena Bapak tidak sayang Aku.
“Memang kau ini pantesnya jadi pengacara” Kata Reza.
“Laah ini sudah jadi pengacara pengangguran banyak acara” Kataku, memang sengaja Aku tidak langsung ke misi utamaku ada perasaan malu pada teman-teman kalau begitu datang langsung menanyakan tentang gadis tadi.
“Gimana malam ini banyak gak cewek-cewek yang lewat dan bisa kalian goda?” Tanyaku memancing mereka.
“Yaaa… gitu deh masih seperti kemarin-kemarin satu dua tapi gak ada yang sip” Kata Reza, wah celaka pikirku mereka tidak termakan jebakanku, otakku segera berpikir untuk menyiapkan pertanyaan jebakan berikutnya tapi sebelum menemukan pertanyaan selanjutnya Andre menyahut.
“Ada brow… tadi ada cewek belajar naik motor sama bokapnya cakep banget tetangga kampung kita, Reza aja yang matanya perlu dibawa ke dokter nggak ngeliat cewek cakep lewat” Katanya, jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dalam hatiku bersorak kegirangan penuh kemenangan.
“Emang siapa… kau kenal sama cewek itu?” tanyaku, Aku berharap salah satu dari sahabatku ini tau tentang siapa anak gadis itu.
“Namanya Dewi dia masih sekolah di Gunungsari, dia mondok di sana makanya jarang kelihatan mungkin seminggu sekali baru pulang” Kata Andre.
“Kok Aku gak pernah lihat SMPnya ya… padahal kalian tau sendiri rumahku di depan dekat jalan raya setiap anak SMP yang mau berangkat atau pulang sekolah pasti lewat jalan depan rumahku” Kataku, Aku juga heran kenapa waktu gadis itu masih SMP Aku tidak pernah melihatnya.
“Kayanya kau juga harus periksa ke dokter spesialis mata brow” Kata Andre.
“Besok kita barengan ya Za periksa ke dokter mata hehehehe” kataku.
“Sialan kau” Kata Reza.
“Mau nyanyi apa nih?” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Dewa” Kata Andre.
Dan kami pun hanyut dalam alunan lagu-lagunya Dewa yang kami mainkan, walau kedua tangan ku sibuk memainkan gitar dan mulutku tak henti-hentinya bernyanyi namun hatiku selalu terbayang wajah gadis yang tadi sore belajar naik motor tadi, dalam setiap petikan senar gitarku seakan memainkan melody tentang gadis yang kata Andre bernama Dewi itu.
Malam makin larut dan hampir tengah malam rasa kantuk pun mulai menyerang.
“Brow cabut yuk… dah ngantuk nih” Kata Reza.
“Ayo… kayanya Aku juga sudah ngantuk” Kataku.
“Aku tidur di rumahmu ya brow” Kata Andre.
“Sip nggak papa, kau tidak ikut tidur di rumahku Za?” tanyaku.
“Nggak ah… Aku masih punya rumah emangnya Andre hehehehe” Kata Reza sambil ngeloyor pergi.
“Ayo tak bonceng” Kataku.
“Oke” Kata Andre.
Sesampainya di rumah Andre langsung masuk ke kamarku sedang aku masuk ke dapur mencari sesuatu yang bisa dibuat mengganjal perut, tapi nihil aku kembali ke kamar tidur dengan tangan hampa kulihat Andre sudah tertidur pulas, kuputar radio tua yag tergeletak di atas meja kamarku kucari gelombang radio yang memutar lagu-lagu romantis sepertinya aku sedang jatuh cinta, Dewi…
Aku jatuh cinta
Tuk kesekian kali
Tapi kali ini kurasakan
Cinta sesungguhnya
Suara Once membawakan syair lagu ini mengantarku ke alam mimpi, bertemu dengan bidadari cantik bernama Dewi yang telah mengepakan sayap cintanya di hatiku, rasa cinta yang tiga bulan lalu telah hilang kini mulai bersemi kembali dan Dewi lah yang menyemai benih cinta ini, walau masih jauh harapan untuk memetik buah cinta itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, benih cinta yang Dewi semaikan kian tumbuh subur di hatiku namun kesempatan untuk menuai asa itu masih hanya sebatas angan. Aku tidak punya nyali untuk sekedar mendekatinya jangan kan mengungkapkan rasa memandang wajahnya saja aku tidak kuasa, Aku merasa minder dan kepercayaan diri yang selama ini jadi modal utamaku musnah terkalahkan oleh seraut wajah manisnya yang kian menggoda.

Satu pagi di musim kemarau…
Seperti pagi-pagi sebelumnya aku bangun kesiangan, dengan segala cara Ibuku berusaha membangunkan tidurku setelah berjuang hampir satu jam akhirnya Ibuku berhasil juga membangunkan tidurku.
“Cepat bangun sudah siang bantu Ibu ambil air sekarang musim kemarau Ibu mau nyuci tidak ada air” Kata Ibuku.
“Iya iya buk” Kataku sambil mencoba membuka mataku yang masih terasa berat.
“Sarapan dulu tadi Ibu bikin nasi goreng” Kata Ibuku.
“Nanti saja Bu, ambil air dulu katanya Ibu mau nyuci gak ada air” Kataku, sambil meraih dua tong tempat air. Memang di daerah kami jika musim kemarau datang air bersih jadi kebutuhan pokok kami sumur pompa di rumah kami sudah kering tidak mampu lagi mengeluarkan air dengan terpaksa kami harus rela antri untuk mengambil air bersih di sumur Balai desa.
Sesampainya di sumur Balai desa Aku segera mengantri tiba-tiba dadaku bergetar detak jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya darahku mengalir sangat deras, sebab antrean di depanku adalah bidadari yang selama ini menancapkan sayap cinta di hatiku, aku coba menyapanya.
“Ngangsu Dewi?” Pertanyaan yang sangat bodoh keluar dari mulutku.
“Nggak ngarit” Jawabnya ketus, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
“Mati Aku” Kataku dalam hati, penantianku selama berbulan-bulan untuk sekedar bisa mengakrabkan diri hanya berakhir dengan kebisuan, rasa minderku kian memuncak membuat aku jadi manusia paling bodoh di dunia, Aku tidak mampu melanjutkan kata—kataku lagi karena mulutku terasa terkunci oleh jawaban ketusnya tadi.
Akhirnya tong tempat air milik Dewi penuh dan sekarang giliranku mengambil air, Dewi pun pergi dengan menggoreskan selaksa kekecewaan. Hari yang kelabu…
Sebenarnya banyak sekali kesempatan untuk mendekatinya karena setiap hari Aku melihat Dewi mengantarkan adiknya yang sekolah TK di dekat rumahku, namun Aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya jadi pengagum dari jauh saja dan yang membuatku merasa sangat minder Kudengar Dewi adalah seorang cewek yang sering berganti pacar dan dari semua pacarnya tidak ada yang tidak punya motor semua anak orang berada jauh dibandingkan dengan keadaanku, di tempat nongkrongku semua mantan Dewi menceritakan hal-hal tentang Dewi dari hal yang pantas diceritakan sampai hal yang tidak pantas diceritakan hingga perasaan minder itu semakin menjadi, Aku hanya bisa membayangkan seandainya Aku lah yang bercerita di hadapan teman-temanku bukan hanya sebagai pendengar, walau banyak cerita-cerita miring tentang Dewi entah mengapa hal itu tidak pernah mengurangi perasaanku padanya.
Buku harianku penuh dengan catatan tentang Dewi karena hanya itulah yang bisa aku lakukan agar aku tetap merasa dekat denganya dalam setiap tarikan nafas dalam doaku, Aku hanya memohon kepada Tuhan suatu saat diberikan kesempatan untuk bisa masuk dalam kehidupanya, dan Aku sangat yakin jika Tuhanku adalah Maha pengabul doa kalaupun toh tidak dikabulkan hari ini, mungkin besok atau lusa jika tidak, bisa jadi nanti di akhirat, sebait doa yang selalu ku panjatkan…
Tuhan….
Terimakasih Engkau telah anugerahkan padaku perasaan ini terhadapnya
Walaupun tiada pernah Engkau bukakan pintu hatinya untuku
Aku sudah cukup bahagia untuk sekedar jadi pengagumnya
Kalaupun Dewi bukan jodohku di dunia ini
Hamba mohon empat puluh bidadari yang Engkau janjikan nanti di surga
Salah satunya adalah Dewi…
Sekian.

Selasa, 07 Januari 2020

WAKTU BELUM BERPIHAK


Seorang perempuan dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil berbalut jaket jeans tengah berjalan menuju sebuah meja dengan seorang penghuni, laki-laki berjaket hitam. Segelas milkshake coklat yang tinggal setengah terdapat di mejanya, tanda laki-laki itu sudah lama menunggu. Seulas senyum ia tunjukkan begitu mata almond laki-laki itu menatapnya.

Sang laki-laki berdiri, menyambut hangat gadis itu dengan pelukan. “Aku kira kamu nggak dateng,” ucapnya dan menarik kursi untuk gadis berambut sebahu itu duduk. “Mau minum apa?” ia lanjut bertanya.
“Nanti aja,” jawab gadis itu setelah duduk. Masih tersenyum, ditatapnya laki-laki itu lekat-lekat.
“Kenapa?” tanyanya seraya balas memandang lensa coklat pekat milik perempuan di hadapannya.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia merasa deja vu. Suasana di dalam restoran pun sama: pencahayaan remang-remang dengan latar belakang musik klasik, seolah telah menjadi ciri khas tempat tersebut. Malam ini, terasa seperti sore itu. Dua bulan yang lalu.

“Aku mau kita putus,” tukasnya tanpa melihat kekasihnya.
Tubuh tegap sang laki-laki menegak, terkejut akan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?”
“Aku mau berhenti, Hadi.” Suara gadis itu bergetar, disusul dengan isakan kecil yang semakin menjadi.
Laki-laki itu, Hadi, mengamil tangan perempuan itu dan menggenggamnya. “Hei… kita udah sejauh ini, inget? Jangan nyerah, ya? Aku mohon?” bujuknya dengan halus.
“Harus sampai kapan, Dan?” ia bertanya di sela tangisnya.
“Sebentar lagi. Aku mohon bantu aku.” Hadi memelas. Dilepasnya genggaman itu, beringsut dari duduknya, dan beralih memegang kedua bahu gadis mungil di hadapannya. Ia tersenyum. “Aku mohoh… ya?”

“Dewi?”
Dewi, gadis itu, mengerjap. “Iya, Di?”
Laki-laki itu terkekeh, dicubitnya pipi tembam Dewi. “Kenapa malah ngelamun?”
“Nggak apa-apa,” jawab Dewi sekenanya.

Hadi tahu fakta itu: “saat seorang perempuan berkata “tidak apa-apa” berarti dia sedang tidak baik-baik saja”. Maka dari itu, ia diam. Membiarkan Dewi berkelit dengan pikirannya sendiri, membiarkan gadis itu menenangkan diri terlebih dulu. Meski diam-diam, ia berpikir:
Apa masalah yang sedang mendera Dewi?

Hening menghiasi kedua orang itu untuk sesaat. Sebelum akhirnya gadis itu berujar, “Kamu… kenapa minta ketemu dadakan, gini?”
Hadi menggeleng dan tersenyum. “Salah ya kalo aku cuma mau ketemu sama pacar aku sendiri?”
Mendengar laki-laki itu menyebutkan kata “pacar”, membuatnya teringat akan sesuatu. “Kemarin, kamu kemana waktu aku telepon?”

Ada jeda sejenak sebelum Hadi menjawab, “Maaf.”
Dan hanya karena satu kata itu, Dewi tahu artinya apa.

Lagi, ia menyunggingkan senyum. “Tau nggak, Di? Waktu kamu minta aku buat jadi pacar kamu, aku kaget sekaligus bingung; apa aku harus nolak atau nerima? Karena gimanapun juga, aku nggak mau persahabatan yang udah terjalin dari kita kecil, hancur nantinya. Tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa bohongin perasaanku sendiri.

“Waktu kamu putus sama Gina, aku seneng. Maaf kalo aku jahat. Tapi, ya tadi, aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Maka dari itu, setelah mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun. Aku meyakinkan diri buat nerima kamu.

“Nggak nyangka ya, Di! Udah setahun lebih. Seharusnya aku seneng bisa jadi pacar kamu. Tapi, kenapa makin kesini makin menyakitkan?”
Gadis itu diam sejenak, mengambil napas untuk mengisi dadanya yang mulai sesak.

“Dulu, aku terlalu percaya diri bisa buat kamu move on. Tapi nyatanya? Kemarin kamu kelihatan seneng banget waktu ketemu Gina di mall.”
Mata Hadi melebar mendengarnya.

“Iya, aku tau. Nggak pa-pa.”
“Dewi..”
“Kamu… masih terjebak di jurang masa lalu, Hadi. Kamu minta tolong aku buat meraih tangan kamu, sekuat tenaga aku coba untuk mengulurkan tangan agar kamu meraihnya. Nyatanya, kamu Cuma diam di sana tanpa mau berusaha naik agar mencapai tanganku. Mau sampai kapanpun, kalau kamu terus seperti itu, tangan kita nggak akan pernah saling menggenggam. Sederhananya, kamu masih nyaman berada di jurang itu, Di.”
Laki-laki itu diam. Dalam hati, ia membenarkan apa yang Dewi ucapkan. Tapi itu dulu, sebelum ia bertemu Gina kemarin.

“Aku mau nyerah aja.” Buliran bening mulai menumpuk di pelupuk mata gadis itu. “Aku nyerah, Dan.”

Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Dia berlutut di depan perempuan yang matanya semakin memerah karena menahan tangis, pelan-pelan, diraihnya tangan Dewi. Gadis itu berusaha menolak, namun genggaman Hadi mengerat. “Sebentar lagi, ya? Please?”

Setetes air mata lolos membasahi pipi tembam Dewi. Dia menggeleng lemah. “Nggak bisa…” suaranya terdengar lirih, seakan tidak memiliki tenaga lagi.

Hadi mendesah kecewa. Dia terlambat.
Dengan berat hati, ia mengangguk. Padahal, kemarin ia bertemu Gina hanya untuk memastikan. Dan terbukti, bahwa perasaannya telah berpindah kepada sahabat masa kecilnya itu, Dewi. Namun, ia tidak mau menyakiti gadis itu lebih lagi. Dewi telah melakukan banyak untuknya.
Sekarang, ia akan berusaha sendiri. Untuk Dewi. Tanpa orang lain tahu, tanpa gadis itu tahu. Ia harap, suatu saat, waktu akan berpihak kepada mereka berdua.

“Maaf ya,” ucapnya pada Dewi. “Maaf udah nyakitin kamu. Maaf buat semuanya.” Diusapnya sisa air mata gadis itu.
Dewi tertawa purau, dia mengangguk. Perasaan lega menelusup ke dalam dadanya. Bukan berarti ia tidak mencintai laki-laki itu lagi. Hanya saja, ia lelah berpacaran dengan seseorang yang tidak mencintainya. Padahal, tanpa gadis itu tahu, persepsinya salah. Dan mungkin, waktu belum berpihak kepada mereka berdua.
“Tapi kita tetep sahabat, kan?” Hadi bertanya, dibalas anggukan oleh Dewi. Lantas keduanya tertawa dan bercanda pada sisa malam itu.

“Kadang memang selucu itu. Berakhirnya sebuah hubungan akan membentuk hubungan baru, membaik atau memburuk, tergantung pada kedewasaan masing-masing pihak”.

Minggu, 05 Januari 2020

CINTA DAN SI WAKTU


Pada suatu hari disebuah pulau yang bernama “Hidup”,..tinggalah berbagai macam benda-benda abstrak : “Cinta, Kekayaan, Kecantikan, Kesedihan, dan Kegembiraan…”. Pada awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi.  Namun suatu ketika, datanglah badai yang menghempaskan pulau kecil itu. Air laut tiba-tiba naik semangkin tinggi dan akan menenggelamkan pulau kecil itu.  Semua penghuni pulau itu cepat-cepat berusaha untuk menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu.
Ia berdiri ditepi pantai mencoba untuk mencari pertolongan. Sementara itu air laut makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan ! Kekayaan ! Kekayaan ! Tolong aku !” teriak Cinta.  Lalu apa jawab Kekayaan, “Aduh ! Maaf, Cinta !” kata Kekayaan. “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku.
Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini akan tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”  Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan Cinta tenggelam.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan ! Tolong aku !”, teriak Cinta.  Namun apa yang terjadi, Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia menjadi tuli tak mendengar teriakan Cinta. Air laut semangkin tinggi membasahi Cinta sampai kepinggang dan Cinta semangkin panik.  Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. “Kecantikan ! Bawalah aku bersamamu !”, teriak Cinta.
Lalu apa jawab Kecantikan, “Wah, Cinta kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut.
Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya.
Cinta mulai menangis terisak-isak, “Apa kesalahanku, mengapa semuanya melupakan aku.”
Saat itu lewatlah Kesedihan..
Lalu Cinta memelas, “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.
Lalu apa kata Kesedihan,”Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…..”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa…
Ia merasakan air laut semangkin naik dan akan menenggelamkannya.  Cinta terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan.
Lalu ia menangis dan memohon pertolongan,..  “Tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa Cinta ?”.
Pada saat yang kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta ! Mari cepat naik keperahuku !”.
Cinta menoleh kearah suara itu dan melihat sebentuk benda abstrak asing, sedang mengayuh perahunya. Lalu cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Kemudian di pulau terdekat, benda Abstrak asing itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
Pada saat itu barulah Cinta sadar, bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa benda Abstrak
asing baik hati yang telah menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya pada seorang penduduk dipulau itu, siapa sebenarnya Benda abstrak asing itu.
“Oh, Benda abstrak asing tadi ?
Dia adalah “Waktu”, kata orang itu.
Lalu Cinta bertanya “Tapi, mengapa ia menyelamatkan diriku ? Sedangkan aku tidak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun tidak mau menolongku”, tanya Cinta heran.
“Sebab”, kata orang itu, “hanya Waktulah yang tahu..”
“BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA..”.

Jumat, 03 Januari 2020

“SEANDAINYA, RINDU ITU BERBAHASA"


Dia menemukannya pada salah satu gambar. Pada satu layar yang memuat dengan jelas keceriaan dan keakraban. Sepertinya sebuah pertemuan. Reuni. Ada banyak orang. Ada banyak tawa dengan ekspresi bermacam rupa. Juga berlimpah makanan yang digenggam, juga disajikan.
Jadi seperti ini? Syukurlah. Setidaknya dia bahagia. Sepertinya.
Tangannya kembali menutup aplikasi. Sedikit menggeser jemarinya ke icon note dan mulai menyusun kata. Ada sesuatu yang harus ia salurkan. Ada sesuatu yang melompat seketika dari pikirannya. Ia tahu, jika diabaikan, loncatan itu hanya akan berakhir seperti debu diterbangkan angin. Tanpa makna. Tanpa rasa.
Jadi, sudah seperti inikah warna hari? Tak perlu ada pelangi karena hujan tak kunjung tiba. Tak perlu ada semi karena musim sudah jauh tertinggal di belakang. Semua seperti kembali pada awal mula. Dari asing menuju asing. Dari biasa menuju terbiasa.
Matanya sedikit menerawang. Diperhatikannya kembali gambar itu sekilas sebelum menutupnya.
Bahkan untuk memandangmu pun, aku selalu tak bisa lebih lama dari sedetik!
Jalanan masih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan kecepatan lumayan. Hari Ahad seperti sekarang sedikit sekali orang yang mau keluar. Sepertinya, semua orang menyepakati jika inilah saat untuk bersama-sama dengan keluarga di rumah, sekedar bercengkrama, menghabiskan quality time dengan orang terkasih. Tapi, kesunyian yang merajam tetap takkan terganti. Itulah sebab dia keluar. Menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah kafe di depan mall, menyesap (mengisap seperti burung) double espresso, dan memantau lini masa dari tab-nya. Bahkan aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan rindu. Kosakata itu terlalu tua di bibirku yang tak punya kekuatan untuk berkata.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kuungkapkan meski ketergesaan seringkali membunuh dan merampas hidup. Aku ada. Hari ini. Menjalani hari masih dengan semangat matahari. Tak lelah. Tak ragu. Tak undur meski kadang banyak penghalang jalan.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kusampaikan. Sekadar menguraikan penat yang bersarang atau untuk bersapa ria pada dunia. Aku ada. Hanya seringkali tak disadari karena aku seperti sembunyi. Karena, dalam ketakterdeteksian angka-angka dan rupa, aku menemukan diri menjadi lebih berbeda. Setidaknya, agar aku belajar mengenal kosakata itu lebih dari siapa pun yang pernah mengecap rasanya. Untuknya, yang dekat di mata hangat di hati, tapi tak pernah bisa mengungkapkannya. Kosakata rindu masih terlalu liat di bibirku yang tak mengenal keberanian untuk berujar.

aku tahu kamu tak mau mengaku.
aku tahu kamu sudah lama rindu.
pada diriku, teman baikmu, yang sebenarnya juga lama menunggumu.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya
engkau tahu aku memang agak pemalu.
engkau tahu aku yang juga merindu.
pada dirimu, teman baikku, yang seharusnya juga tahu tentang aku.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya.
Dan tak perlu tahu sejauh itu untuk tahu bahwa rindu kadang tak bisa dibahasakan….

Kamis, 02 Januari 2020

APAKAH HUJAN CENGENG?


“Hujan tak pernah cengeng”.
Begitu katanya. Dingin, menusuk, tanpa perasaan. Itu kalimat terpanjang yang dia ucapkan setelah lima menit datang, menepuk dahinya sendiri, lantas terdiam. Dia duduk di ujung bangku sebelah kanan, menopang dagunya dengan dua kepal tangannya yang disatukan sementara ujung lengannya menyentuh ujung paha. Badannya sedikit membungkuk seperti pose orang-orang cerdas sedang termenung dan memikirkan keputusan penting. Sayangnya, dia tidak cerdas. Tidak juga pintar membaca perasaan.
“Kamu masih sedih? Berulangkali harus kukatakan, tak perlu ada yang disedihkan dari perpisahan. Itu lumrah, kan?”
Aku menatapnya sengit. Dia tidak merasakan kesedihan ini masalahnya. Seenaknya ngomong, seenaknya mencela, seenaknya pula sok-sokan menasehati. Kalau saja ada seseorang yang lebih bisa kuandalkan daripadanya, aku jelas takkan menghubunginya, terlebih di saat-saat seperti ini.
“Dia lebih memilih pergi kan? Ya sudah. Berarti dia tidak pernah memilihmu. Dia mementingkan dirinya sendiri dibanding kamu. Apa lagi? Mau nangis sampai kapan coba?”
Omelannya menjengkelkan. Tak membantu. Sungguh. Ingin sekali aku berteriak dan mengatakan padanya bahwa bukan omelan menyebalkan seperti itu yang kubutuhkan. Aku hanya ingin ada teman. Hanya ingin ada seseorang yang tahu bahwa aku bisa kembali berdiri, serapuh apapun keadaan yang menderaku. Sayangnya, lagi-lagi, aku salah memilih orang. Selalu dia yang pertama kali kuhubungi. Selalu nomornya yang teringat di kepalaku. Lalu, tanpa pernah menunggu lama, dia datang, duduk sebentar, mengamati, lantas ngomel panjang lebar setelah lama mendiamkan.
“Kamu tuh lucu. Orang nggak ada rasa sama kamu masih saja kamu kejar. Sapi saja tak akan masuk ke lubang yang sama dua kali. Kamu? Berulangkali. Ngeyel sih! Tak pernah mau dengar kata orang.”
Mataku masih berderai. Tapi kali ini bercampur satu hal lagi. Ocehannya yang mendadak terasa benar meskipun menusuk jiwa raga.
“Sekarang, aku janji ini untuk terakhir kalinya aku datang jika masalahmu masih saja berurusan dengannya. Ini janjiku, Hadi. Aku takkan lagi mau datang jika tangismu hanya karena dia.”
Aku menghela napas panjang dengan mata terpejam. Perih ini menjadi. Baru beberapa saat lalu seseorang yang sejak dulu kuanggap matahari pergi meninggalkanku. Alasannya sederhana. Dia harus lebih meningkatkan kualitas eksistensi keilmuannya. Beberapa menit dari sekarang, dia akan terbang ke daratan antah berantah. Mengepakkan sayapnya sendiri, mengabaikan semua usahaku untuk mendekati, dan kini aku seperti debu yang merana di bandara.
Setidaknya, aku tahu diri untuk tak berlama-lama di bangku tunggu ini. Orang-orang lalu lalang. Kendaraan melaju dan berhenti menurunkan dan mengambil penumpang. Aku tahu bahwa banyak di antara mereka melihatku, menertawakan tangisku, tapi aku tak peduli. Aku tak bisa bersikap seperti Juliet yang mengejar Romeo, berteriak bahwa aku mencintainya. Semua terasa sangat asing sekarang. Perasaan ini. Rasa kehilangan ini. Seperti dandelion yang dihembus kencang dan berhamburan entah kemana. Aku keping dari diriku yang utuh. Dia telah pergi. Dan aku telah menjadi separuh hati.
 “Aku gak bawa sapu tangan ataupun tisue. Adanya cuma ini. Nih, pake!” Dia menyodorkan sebuah kaos padaku. Warna hitam. Tipikal. Mataku bertanya. Ujung dahunya terangkat seolah mengisyaratkan bahwa sudah seharusnya aku menyusut air mataku dengan kaosnya.
“Aku tunggu lima menit. Kamu segera benahi penampilanmu. Tuh, ada water closet di sebelah sana…”
Dia menunjuk sebuah tempat. Aku mengusap hidungku. Beranjak. Tanpa kata. Ini kali kelima aku menghubunginya dan selalu berakhir seperti ini. Aku tahu persis, setelah aku beres dengan membenahi penampilan, dia akan segera melarikan mobilnya ke toko kue, membiarkan aku merampok isi toko tersebut diselingi dengan dua gelas medium ice moccacino.
Hanya aku. Dia tidak.

Senin, 30 Desember 2019

SENJA DAN HUJAN ( Part II )


Ia membuka pintu kamarnya dan tampaklah mamanya dengan raut wajah khawatir, sepertinya mamanya ini mengetahui apa yang terjadi pada Dewi atau hanya melihat penampilan Dewi dan kemarin hanya untuk menanyakan ada apa yang terjadi antara mereka.

Mamanya buru-buru masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasur miliknya, wajah mamanya masih menunjukkan raut khawatir, Hadi mendekati mamanya dan ikut duduk di tepi kasur samping mamanya.

“Ada masalah apa Kamu sama Dewi?” Benar tebakan Hadi, mamanya pasti akan menanyakan hal itu, tetapi Hadi tidak dapat menjawabnya, ia saja tidak mengetahui kenapa Dewi tiba-tiba bersikap seperti tadi, diluar dugaannya sekali.

“Hadi gak tau ma, tiba-tiba dia mau pulang, terus Hadi tahan, Hadi tanya kenapa dia Cuma nunduk terus geleng, pergi keluar.” Ungkap Hadi sekenanya dan sebenarnya.

“Mama lihat Dewi tadi menangis, mama kira kalian berantem, Kamu tadi bahas apa sama Dewi, mungkin ada kata-kata yang nyakitin hati Dewi,” Mamanya bertanya dengan lembut.

Hadi merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia hanya bercerita dengan Dewi perihal akan mengungkakan perasaan kepada adik kelasnya itu secepatnya, Dewi juga sudah sepakat untuk membantunya, kenapa Dewi dapat berubah menjadi muram seperti itu, ia sendiri heran.

“Kamu harus cari tau, perbaiki hubungan kalian seperti biasanya, jangan perang dingin seperti ini. Mama keluar dulu, ya. Kamu pasti tahu jawabannya nanti.” Setelah berkata seperti itu, mama Hadi keluar meninggalkan lelaki itu yang termenung sendirian.

Esok paginya, tidak ada suara lengkingan milik Dewi yang merasuki gendang telinganya, tak ada lagi gangguan-gangguan dari Dewi, mereka sebangku namun seperti saling tak kenal, tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan, semua makhluk yang ada di dalam kelas merasa heran karena tidak biasanya mereka berdua perang dingin seperti ini, biasanya ada saja keriuhan yang disebabkan oleh mereka berdua.

Sepanjang pelajaran, Hadi merasa ada yang kurang dalam hari-harinya, sesuatu yang memang harus menjadi santapan paginya, namun sekarang telah hilang. Kemana gangguan-gangguan yang ditujukan untuknya dari Dewi, mana celotehan-celotehan yang bisa membuat telinganya panas dan otaknya yang hampir meledak, ia kehilangan hal itu, ia sangat merasa kehilangan.

Ia ingin memulai bicara dengan sahabatnya ini, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sepatah kata pun, bibirnya seperti ada perekat yang membuatnya terus merapat saat ingin berbicara dengan Dewi. Hatinya terasa sesak saat Dewi melengos dan memalingkan wajahnya kalau mereka berpapasan, cukup sudah, Hadi sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Dewi yang menjauhinya.

Dewi duduk di halte bus, karena kesibukan OSIS nya, ia jadi pulang terlalu sore, ia cemas apakah ada bus atau taksi yang lewat. Sudah hampir se-jam ia menunggu bus atau taksi, bunda dan ayahnya sudah berkali-kali menghubunginya dan hanya dijawabnya, “urusan OSIS Dewi belum selesai.” Tentu saja ia berbohong, ia tidak ingin orangtuanya cemas, ia bisa jaga diri.

Tak lama dari itu, rintik hujan mulai menyelimuti jalan aspal. Hawa dingin mulai merasuki tubuh Dewi, diraba-rabanya tas mencari sesuatu, tetapi nihil. Sial sekali, payung dan jaket tak ia bawa, habis sudah nasib dirinya membeku di halte bus ini.

Terbesit keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Hadi, namun egonya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada Hadi, ia sudah berniat untuk menjauhi lelaki itu, takut-takut perasaannya semakin besar dan semakin ia sakit hati.

Bibir Dewi mulai pucat, tangan serta buku jarinya mulai terlihat putih, hujan masih terus membasahi jalan, lampu-lampu mulai menyala menerangi sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda apapun taksi lewat.

Dewi menunduk, lalu mendongak saat ada sinar yang menyinari tepat di wajahnya, ia menyipit, itu motor Hadi, jelas sekali. Dalam benaknya, untuk apa Hadi menjemputnya, toh lelaki itu menyukai orang lain, kenapa Hadi harus repot-repot memperdulikan dirinya?

“Dewi! Pulang sekarang!” Hadi turun dari motor dengan keadaan basah kuyup, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tangannya langsung menggenggam lengan Dewi dan menariknya menuju motor.
“Gue gak mau pulang sama lo! Gue bisa naik taksi, lo duluan aja.” Dewi menghempaskan tangannya kasar, berujar dengan nada sedikit berteriak karena suara hujan yang menghalangi.
“Bunda nelepon gue, dia cemas banget sama lo, Wik.”
Dewi masih tetap dalam pendiriannya, ia menggeleng keras. “Bilangin bunda, kalo gue masih ada urusan di sekolah, lo pulang duluan, gue gak mau pulang sama lo.”
“Gue salah apa sama lo, Wik? Sampe-sampe lo gak mau pulang sama gue? Gue udah muak Wik dengan sikap lo yang seperti ini, gue pengen lo yang dulu, Dewi. Yang selalu ganggu gue, yang selalu buat gue marah, gue pengen semua itu terjadi lagi seperti biasa, Wik.”
“Gak! Kita gak bisa seperti dulu, gue harus jaga jarak sama lo, gue harus pergi jauh dari lo, gue gak mau deket sama lo lagi, selamanya.”
Hadi tersentak, ia sangat terkejut dengan perkataan Dewi barusan, ditatapnya gadis itu, wajahnya pucat dan air mata mulai mengaliri pipinya, direngkuhnya tubuh mungil Dewi membiarkan gadis itu menangis di dada bidang miliknya. (Hujan pun berhenti turun yang telah membasahi mereka berdua).

“Kasih tau gue alasannya, Wik. Gue tersiksa dengan sikap lo yang seperti ini.” Ujarnya dengan nada berbisik.
“Lo suka sama orang lain, di. Gue gak sanggup kalo deket dengan lo, hati gue selalu sakit kalau tau lo suka sama orang lain, gue gak kuat.”

Dieratkannya pelukan Dewi, “gue baru sadar, Dewi. Bukan dia yang gue suka, melainkan gadis yang berada di dalam pelukan gue ini, hidup gue berasa hampa tanpa dia, hati gue berdesir sakit setiap dia mengacuhkan gue, dan jantung gue selalu berdegup kencang bila dia di dekat gue.”

Dewi merenggangkan pelukannya, menatap manik mata Hadi, mencari kebohongan di sana, namun sepertinya kejujuran dan kesungguhan lah yang ada di manik tersebut.

“I love you my best friend. Jadi pacar sama sahabat gue ya.” Hadi berbisik lembut, semakin mengeratkan pelukannya.

Dan akhirnya mereka berdua pulang, ditengah perjalanan mereka melihat senja. Di senja ini, hanya hujan dan pepohonan yang menyaksikan mereka, kini Dewi tahu, usahanya tak sia-sia, perasaannya terbalaskan. Senja dan hujan, terima kasih telah menjadi saksi atas kejadian hari ini.

“SENJA DAN HUJAN”


“SENJA DAN HUJAN ( Part I )”

“Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar seseorang yang hanya membuatmu patah hati, lupakan dan lihatlah ke depan, kamu hidup bukan untuk mengejar orang itu saja”.

Hadi berjalan dengan langkah besar menuju kelasnya, ia ingin menghindari sesuatu yang baginya adalah bencana yang luar biasa jika sesuatu itu mengganggunya, membuat otaknya memanas dan hampir meledak karena sesuatu itu. Selangkah lagi ia memasuki kelasnya itu, terdengar suara melengking dari ujung sana, Hadi memejamkan matanya takut, astaga, mati saja ia.

“Hadi! Tungguin gue dong!” Bukannya menunggu orang yang memanggilnya, ia malah masuk ke kelasnya dan langsung menutup pintu kelas itu, semua orang yang ada di dalam menatapnya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, mereka sudah hafal suasana ini, setiap hari dan berulang-ulang.

“Kusuma, bilangin si sinting itu kalo gue belum dateng ya, gue mau sembunyi dulu.” Setelah berkata seperti itu kepada ketua kelasnya, lalu ia berlari ke arah meja guru dan bersembunyi di bawahnya, semua teman sekelasnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Hadi dan Dewi “si sinting” yang disebutkan oleh Hadi tadi,- bagai anak kecil yang sedang bermain petak umpet, Hadi yang ngumpet dan Dewi yang mencari, begitulah suasana kelas mereka setiap pagi.

Brak! Pintu yang diganjal oleh beberapa anak laki-laki itu didobrak oleh gadis sinting yang sedang mencari lelaki lawan main petak umpetnya, anak laki-laki yang menahan pintu itu tersungkur ke depan dan mengaduh kesakitan, dasar Dewi, badan mungil tetapi kekuatan macam Hulk.

Mata Dewi mulai mencari-cari keberadaan Hadi, ia sebenarnya sudah tahu di mana Hadi, tetapi ia ingin bermain-main sebentar, berjalan kesana kemari di area kelas yang cukup luas, mencari di kolong meja semua temannya, dan akhirnya ia bertanya kepada ketua kelas yang sok bijaksana.
“Mana Hadi?” Ia bertanya dengan nada tenang, ujung matanya terus melirik ke arah kolong meja guru, ada sesuatu berwarna abu-abu dan hitam yang ia yakini pasti Hadi.
“Belum dateng,” seperti yang telah ia duga, Kusuma pasti mejawab pertanyaannya dengan jawaban tersebut, maka dari itu ia meninggalkan Kusuma dan mulai berjalan ke arah meja guru.

Sementara Dewi berjalan menuju meja guru, yang bersembunyi malah mengigil setengah mati, ia tidak mau emosinya meledak karena gadis sinting yang notabenenya adalah sahabat sekaligus musuh yang sangat mengganggunya.

“Ciluk Baaa!” Wajah menyebalkan Dewi muncul membuat Hadi terkejut.

Hadi dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya, ia berdecak kesal, lalu keluar dari tempat persembunyiannya itu, seluruh teman-temannya terkekeh melihat pertunjukkan dua anak remaja yang seperti anak kecil yang kurang bahagia saat kecilnya.
"Lo kenapa gak nungguin gue sih?” Dewi bertanya dengan nada sok merajuk.
“Lo nyebelin, pengen gue tampol.” Hadi mengibas-ibaskan debu yang menempel pada seragamnya sembari berjalan menuju bangkunya yang terletak di urutan nomor tiga dinding sebelah kanan dekat pintu.
“Tapi ayah kan udah nyuruh lo buat barengan sama gue.”

Hadi memutar bola matanya malas, ia kadang kesal dengan Dewi ini, bukan kadang lagi melainkan selalu kesal dengan gadis sinting yang ada di sampingnya ini, selalu mengganggu dirinya dengan suara melengking dan membahana yang dapat membuat telinga orang lain langsung bengkak karena suara Dewi, belum lagi celotehan atau kegiatannya yang selalu mengganggu Hadi membuat Hadi naik darah dan ingin melemparkan gadis sinting ini ke kutub utara agar mati dan tak mengganggunya lagi, kejam memang, tetapi begitulah hal yang terpikirkan oleh Hadi di benaknya.

“Gue tadi udah nunggu lo ya di depan rumah, kata bunda, lo masih dandan, udah tau muka jelek, mau didandan gimana pun, muka lo masih tetep kek nenek lampir, yaudah gue tinggalin.” Ujarnya cuek, membuat Dewi berdecak pelan.
“Masih mending gue kek nenek lampir, daripada lo, muka kek pantat panci gosong aja bangga. Udah, lo jauh-jauh dari gue.” Dewi mengambil spidol di dalam kotak pensil bergambar Doraemon miliknya, lalu memberi batas di tengah-tengah meja Dewi dan Hadi.
“Lo ngapain sih? Jelas-jelas lo yang ganggu, kenapa lo yang ngambekan coba?” Hadi menyingkirkan tangan Dewi yang sibuk membuat batas pada meja mereka.
“Lo ngatain gue sih!”
Hadi menggeleng, mimpi apa ia punya sahabat seperti Dewi ini? Si sinting yang awalnya mengganggu eh ia juga yang merajuk, maunya apa perempuan ini?
Hadi tidak menanggapi lagi gadis sinting di sebelahnya ini, kepalanya ia hadapkan ke jendela, menunggu bel pulang berbunyi.
Dewi menunggu dengan bosan di kamar Hadi, sore ini Hadi ingin bercerita dengannya, tidak tahu apa yang akan diceritakan Hadi, sebagai seorang sahabat yang baik ia harus mendengarkan cerita Hadi, siapa tahu kalau Hadi ingin cerita mengenai perasaannya terhadap Dewi.

Pintu kamar Hadi terbuka dan tampaklah wanita yang usianya hampir setengah abad tersenyum dan menghampiri Dewi sambil membawa nampan yang berisi susu strawberi dan coklat kesukaan mereka berdua dan beberapa makanan ringan.
“Hadi belum selesai mandinya, Dewi?” Wanita itu bertanya dengan nada lembut khas keibuan pada Dewi.
Dewi menggeleng samar, “belum ma, lama banget si tuyul itu.”

Wanita yang dipanggil mama oleh Dewi itu tersenyum lebar, anak tetangganya ini yang menjadi sahabat anaknya dari kecil ini memang bisa membuat suasana hatinya bahagia, dengan tingkah dan ucapannya yang asal ceplos saja.
“Namanya juga Hadi, mandi sebentar itu keajaiban,” mama Hadi meng-iyakan ucapan Dewi.
“Ma, Dewi laper. Tadi padahal udah makan dua mangkok mie bakso buatan bunda, tapi laper lagi, mama masak apa?”
“Dasar ya perut karet, mama cuma buat sop dan perkedel, yuk kalo mau makan, tinggalin aja tuyul itu.”
Dewi mengangguk, ia lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh mama Hadi. Belum sempat mereka berdua keluar dari kamar Hadi, terdengar suara decitan pintu kamar mandi dan suara bass laki-laki bertanya, “mau ke mana kalian?”
“Eh, si tuyul udah selesai mandinya, mau makan bentar ya.”
“Eh, ntar dong makannya, dengerin gue cerita dulu,”

Dewi berdecak, sedangkan mama Hadi sudah keluar dari kamar Hadi, ia tidak ingin mendengarkan perdebatan yang tiada habisnya dari dua anak remaja yang seperti anak kecil itu, lebih baik ia keluar daripada mendengarkan perdebatan tersebut. Di dalam perdebatan dua remaja ini, tidak ada yang mau mengalah sama sekali, kalau sedang bijak saja Hadi atau Dewi yang akan mengalah, tetapi kalau otak mereka sedang batu-batunya, jangan harap perdebatan tersebut selesai.

Sepertinya, kali ini Dewi lah yang mengalah, ia dengan terpaksa menahan rasa laparnya untuk mendengarkan cerita Hadi si tuyul. Kali ini, Hadi merasa menang, ia sudah lelah mengalah dengan Dewi.

“Cepetan! yaelah.” Dewi berucap kesal sambil melipat tangannya di dadanya dan duduk di kasur empuk milik Hadi.
Hadi ikut duduk di kasurnya, ia tersenyum, dan memulai ceritanya.
“Gue lagi suka sama adek kelas, Dewi.” Hadi memulai ceritanya.

Deegg! Entah kenapa terbesit rasa sakit di lubuk hati Dewi, ia merasa sakit saat tahu Hadi menyukai orang lain, perasaannya tak terbalaskan. Ia sangat tak menyangka jika Hadi menyukai orang lain, ia kira perasaannya terbalaskan, rupanya tidak. Percuma saja ia mengejar dan selalu mengganggu Hadi, ternyata perjuangannya sia-sia. Hadi menyukai orang lain, itulah faktanya.
Bahu Dewi diguncang-guncangkan oleh Hadi, bukannya mendengar cerita dari Hadi, Dewi malah melamun dengan pandangan lurus ke depan, sia-sia saja mulutnya berkoar-koar cerita tetapi tidak didengarkan.

“Hah? Kenapa Hadi?” Dewi tersadar dari lamunannya, membuat Hadi berdecak kesal.
“Lo dari tadi gak dengerin gue cerita, rese lo. Gak mau cerita ah,” Hadi merajuk.
“Lebay lo ah, gue dengerin nih, jadi lo jangan ngambekan. Cepetan cerita atau gue tinggal buat makan karena dari tadi gue udah nahan laper dan gue rela nahan rasa laper buat dengerin cerita lo.” Dewi berujar ketus.
“Awas lo ya gak dengerin gue. Gue lagi suka sama adek kelas, dia orangnya cantik, polos-polos gimana gitu. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, Dewi.”
Dewi memutar bola matanya malas. “Bisa ya lo suka sama orang, gue kira lo gak bisa suka sama orang.” Dewi mengejek.
“Bisalah, gak kayak lo. Gue lanjut lagi ya. Nah, gue pengen ngungkapin rasa suka gue ke dia Dewi. Sebagai cewek, lo pasti tau kan apa aja yang biasanya disukai cewek. Gue pengen minta bantuan lo buat nyiapin Kusumaah untuk dia, gue pengen ngungkapinnya secepat-cepatnya.” Hadi berkata dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia sangat bahagia bisa menceritakan hal ini pada sahabatnya, sedangkan Dewi hanya tersenyum masam menahan rasa sakit hatinya.
“O..oke, tapi lo temenin gue ya. Gue balik dulu.” Dewi beranjak dari kasurnya Hadi, sementara Hadi melongo melihat Dewi, buru-buru ia menahan tangan Dewi sebelum ia keluar dari kamarnya.

Hadi membalikkan badan Dewi yang tengah menunduk, ia heran dengan sikap Dewi, bukankah Dewi biasa-biasa saja tadi, kenapa sekarang menjadi muram begini. Ia sangat tahu ada sesuatu yang membuat suasana hati Dewi berubah tiba-tiba begini, mungkin karena ceritanya kurang menarik.

Dilihatnya gadis di hadapannya yang sedang menunduk, ia meraih dagu Dewi namun gadis itu menolak, membuat Hadi semakin terheran-heran. “Lo kenapa sih?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Hadi, ini bukan Dewi yang ia sebut gadis sinting seperti biasanya, ini bukan Dewi yang selalu ceria, ini gadis lain bukan Dewi.
Dewi hanya menggeleng, melepaskan tangan Hadi dengan pelan, kemudian berbalik pergi setengah berlari agar Hadi tak dapat menarik lengannya seperti tadi, ia tidak ingin melihat Hadi, ia tidak ingin Hadi melihatnya menangis, ia hanya perlu menenangkan dirinya di kamar dengan setumpuk novel usangnya, Kusumaah ulang tahun yang diberikan Hadi untuknya setiap tahun.
Saat turun dari kamar Hadi, ia melihat mama Hadi yang tengah menunggunya di ruang makan, “mau ke mana Dewi? Gak jadi makan sama mama?” pertanyaan yang dilontarkan mama Hadi hanya dibalasnya dengan senyuman sayu, lalu berlalu pergi keluar menuju rumahnya.

Pintu kamar Hadi diketuk lembut oleh seseorang, entah kenapa hatinya sedang kacau sekarang, ia sangat tidak menyukai kalau Dewi begitu, ia suka Dewi yang selalu ceria, bukan yang bermuram masam seperti tadi dan tanpa alasan jelas ia meninggalkan Hadi di kamarnya.


Minggu, 29 Desember 2019

KEPING HATI DI SENJA



“KEPING HATI DI SENJA”
Saat itu Aku dan Dia pergi ke pantai yang tidak jauh dari tempat tinggal kami berdua, setelah sampai di pantai kami mencari tempat yang menurut kami cocok untuk melihat mentari yang perlahan-lahan terbenam. Semburat jingga di sudut langit mamantul ke air laut. Menghias bias bayangan diriku dan dirinya yang ikut terpantul. Anginya lembut menghembus wajah kami, dan menerbangkan desah jiwa kami,.
Kupandang wajahnya, yang dingin seperti biasanya. Sebersit ingatan tentang malam kemarin membuat dadaku kembali terasa sesak. Sadarkah ia yang telah memeluk kakakku kemarin, dengan tulusnya.. aku tau, Dirinya belajar di luar pulau seperti kakakku. Kini keduanya di Jepang, bersamaku. Dan aku, mulai mengerti bagaimana jalan cerita ini, layaknya alur roman yang sendu.
Dewi menatapku, membuatku bergetar dan ingin menjauh darinya. Tapi cercah cahaya itu berkata lain, seakan mengikat kami dalam satu hubungan yang rumit. Kau milik Key, tak sepantasnya kau bersikap ini padaku. Kau membuatku kembali bingung dengan putusanku untuk menjauhimu. “Tolong! Berhentilah dengan sikapmu ini. Teriakku dalam hati”.
Dewi diam, seakan begitu menikmati senja bersamaku. Sakit ini, terasa tak bisa kutahan lagi. Aku menangis tanpa dasar disisinya. Tetes tetes itu mulai meleleh, mengalir dipipiku dengan cepat. Sementara kualihkan pandangan ke depan tanpa menatapnya.
Semua gelap, hitam. Mataku, tertutup oleh sentuhan tangan itu. Ya, Dewi menutup mataku dari belakang. Dan tak pernah kurasakan sentuhan paling tulus, selain sentuhannya. “Biarkan seperti ini, Kusuma. Biarkan jemariku yang menghapusnya. Maaf, aku tak mampu melindungi wajahmu dari air mata sendu ini. Maaf dan maaf” (ucap Dewi di belakangku). Aku terkejut. Tapi entahlah, aku hanya merasa nyaman dengannya meski aku tau Dewi tak mungkin jadi milikku. Pikirku saat itu, tanpa tau apa yang Dewi pikirkan.
Senja kian tenggelam, lilin lilin tegak itu kehabisan cahaya. Berangsur redup dan hilang. Aku kembali tenang, bersama Dewi yang telah berada di sampingku. Mata kami, menatap cahaya langit senja. Menatap lukisan alam mega-mega abstrak. Membuat siluet tentang dua remaja yang beradu pikiran tanpa mengetahui pikiran yang lainnya. Yang saling memendam rasa dan  cinta.
Sepoian angin senja sedikit bertambah kencang. Dan seketika itu, tetesan air langit mulai jatuh dan berguguran. Membasahi kami dengan kesejukannya, menerpa kami dengan ketenangan. Menyadarkanku, bahwa gerimis ini tak mungkin untuk diangkat kembali ke atas sana, dan dimulai bersama Dewi yang tak mungkin dapat dihapus, dan dimulai kembali dengan baik.

Kusuma : “Dewi... ucapku dalam hati”.
Dewi : “Kusuma … ucap Dewi dihati,(tanpa sedikitpun kutahui)”.
                 “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
Kusuma : “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
               “Seperti kau yang tadi menghapus air mataku”.
                 “ Seperti kau yang tengah menemaniku saat ini”.
                 “Walaupun aku tau, ini hanya akan menjadi harapan belaka”.
Dewi :“Aku yakin ini tak akan menjadi harapan yang sia sia Kusuma”.
                 “Semoga, kau bahagia saat tiba waktunya nanti”.
Kusuma :“Lupakan aku, Dewi”.
Dewi :“Tunggulah aku, Kusuma”.

Jingga di kala senja telah lenyap termakan gelapnya malam. Meski begitu terang bulan di atas menggantikan cahaya mentari yang hilang. Aku menatap samar wajah wanita disampingku ini. “bisakah kita pulang Dewi”(ucapku). Dewi menoleh dan ia tersenyum tipis. 
“Iya” (ucapnya). Kami pun beranjak dari tempat duduk kami berdua dan akhirnya kami pun pulang.