Senin, 30 Desember 2019

SENJA DAN HUJAN ( Part II )


Ia membuka pintu kamarnya dan tampaklah mamanya dengan raut wajah khawatir, sepertinya mamanya ini mengetahui apa yang terjadi pada Dewi atau hanya melihat penampilan Dewi dan kemarin hanya untuk menanyakan ada apa yang terjadi antara mereka.

Mamanya buru-buru masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasur miliknya, wajah mamanya masih menunjukkan raut khawatir, Hadi mendekati mamanya dan ikut duduk di tepi kasur samping mamanya.

“Ada masalah apa Kamu sama Dewi?” Benar tebakan Hadi, mamanya pasti akan menanyakan hal itu, tetapi Hadi tidak dapat menjawabnya, ia saja tidak mengetahui kenapa Dewi tiba-tiba bersikap seperti tadi, diluar dugaannya sekali.

“Hadi gak tau ma, tiba-tiba dia mau pulang, terus Hadi tahan, Hadi tanya kenapa dia Cuma nunduk terus geleng, pergi keluar.” Ungkap Hadi sekenanya dan sebenarnya.

“Mama lihat Dewi tadi menangis, mama kira kalian berantem, Kamu tadi bahas apa sama Dewi, mungkin ada kata-kata yang nyakitin hati Dewi,” Mamanya bertanya dengan lembut.

Hadi merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia hanya bercerita dengan Dewi perihal akan mengungkakan perasaan kepada adik kelasnya itu secepatnya, Dewi juga sudah sepakat untuk membantunya, kenapa Dewi dapat berubah menjadi muram seperti itu, ia sendiri heran.

“Kamu harus cari tau, perbaiki hubungan kalian seperti biasanya, jangan perang dingin seperti ini. Mama keluar dulu, ya. Kamu pasti tahu jawabannya nanti.” Setelah berkata seperti itu, mama Hadi keluar meninggalkan lelaki itu yang termenung sendirian.

Esok paginya, tidak ada suara lengkingan milik Dewi yang merasuki gendang telinganya, tak ada lagi gangguan-gangguan dari Dewi, mereka sebangku namun seperti saling tak kenal, tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan, semua makhluk yang ada di dalam kelas merasa heran karena tidak biasanya mereka berdua perang dingin seperti ini, biasanya ada saja keriuhan yang disebabkan oleh mereka berdua.

Sepanjang pelajaran, Hadi merasa ada yang kurang dalam hari-harinya, sesuatu yang memang harus menjadi santapan paginya, namun sekarang telah hilang. Kemana gangguan-gangguan yang ditujukan untuknya dari Dewi, mana celotehan-celotehan yang bisa membuat telinganya panas dan otaknya yang hampir meledak, ia kehilangan hal itu, ia sangat merasa kehilangan.

Ia ingin memulai bicara dengan sahabatnya ini, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sepatah kata pun, bibirnya seperti ada perekat yang membuatnya terus merapat saat ingin berbicara dengan Dewi. Hatinya terasa sesak saat Dewi melengos dan memalingkan wajahnya kalau mereka berpapasan, cukup sudah, Hadi sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Dewi yang menjauhinya.

Dewi duduk di halte bus, karena kesibukan OSIS nya, ia jadi pulang terlalu sore, ia cemas apakah ada bus atau taksi yang lewat. Sudah hampir se-jam ia menunggu bus atau taksi, bunda dan ayahnya sudah berkali-kali menghubunginya dan hanya dijawabnya, “urusan OSIS Dewi belum selesai.” Tentu saja ia berbohong, ia tidak ingin orangtuanya cemas, ia bisa jaga diri.

Tak lama dari itu, rintik hujan mulai menyelimuti jalan aspal. Hawa dingin mulai merasuki tubuh Dewi, diraba-rabanya tas mencari sesuatu, tetapi nihil. Sial sekali, payung dan jaket tak ia bawa, habis sudah nasib dirinya membeku di halte bus ini.

Terbesit keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Hadi, namun egonya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada Hadi, ia sudah berniat untuk menjauhi lelaki itu, takut-takut perasaannya semakin besar dan semakin ia sakit hati.

Bibir Dewi mulai pucat, tangan serta buku jarinya mulai terlihat putih, hujan masih terus membasahi jalan, lampu-lampu mulai menyala menerangi sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda apapun taksi lewat.

Dewi menunduk, lalu mendongak saat ada sinar yang menyinari tepat di wajahnya, ia menyipit, itu motor Hadi, jelas sekali. Dalam benaknya, untuk apa Hadi menjemputnya, toh lelaki itu menyukai orang lain, kenapa Hadi harus repot-repot memperdulikan dirinya?

“Dewi! Pulang sekarang!” Hadi turun dari motor dengan keadaan basah kuyup, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tangannya langsung menggenggam lengan Dewi dan menariknya menuju motor.
“Gue gak mau pulang sama lo! Gue bisa naik taksi, lo duluan aja.” Dewi menghempaskan tangannya kasar, berujar dengan nada sedikit berteriak karena suara hujan yang menghalangi.
“Bunda nelepon gue, dia cemas banget sama lo, Wik.”
Dewi masih tetap dalam pendiriannya, ia menggeleng keras. “Bilangin bunda, kalo gue masih ada urusan di sekolah, lo pulang duluan, gue gak mau pulang sama lo.”
“Gue salah apa sama lo, Wik? Sampe-sampe lo gak mau pulang sama gue? Gue udah muak Wik dengan sikap lo yang seperti ini, gue pengen lo yang dulu, Dewi. Yang selalu ganggu gue, yang selalu buat gue marah, gue pengen semua itu terjadi lagi seperti biasa, Wik.”
“Gak! Kita gak bisa seperti dulu, gue harus jaga jarak sama lo, gue harus pergi jauh dari lo, gue gak mau deket sama lo lagi, selamanya.”
Hadi tersentak, ia sangat terkejut dengan perkataan Dewi barusan, ditatapnya gadis itu, wajahnya pucat dan air mata mulai mengaliri pipinya, direngkuhnya tubuh mungil Dewi membiarkan gadis itu menangis di dada bidang miliknya. (Hujan pun berhenti turun yang telah membasahi mereka berdua).

“Kasih tau gue alasannya, Wik. Gue tersiksa dengan sikap lo yang seperti ini.” Ujarnya dengan nada berbisik.
“Lo suka sama orang lain, di. Gue gak sanggup kalo deket dengan lo, hati gue selalu sakit kalau tau lo suka sama orang lain, gue gak kuat.”

Dieratkannya pelukan Dewi, “gue baru sadar, Dewi. Bukan dia yang gue suka, melainkan gadis yang berada di dalam pelukan gue ini, hidup gue berasa hampa tanpa dia, hati gue berdesir sakit setiap dia mengacuhkan gue, dan jantung gue selalu berdegup kencang bila dia di dekat gue.”

Dewi merenggangkan pelukannya, menatap manik mata Hadi, mencari kebohongan di sana, namun sepertinya kejujuran dan kesungguhan lah yang ada di manik tersebut.

“I love you my best friend. Jadi pacar sama sahabat gue ya.” Hadi berbisik lembut, semakin mengeratkan pelukannya.

Dan akhirnya mereka berdua pulang, ditengah perjalanan mereka melihat senja. Di senja ini, hanya hujan dan pepohonan yang menyaksikan mereka, kini Dewi tahu, usahanya tak sia-sia, perasaannya terbalaskan. Senja dan hujan, terima kasih telah menjadi saksi atas kejadian hari ini.

“SENJA DAN HUJAN”


“SENJA DAN HUJAN ( Part I )”

“Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar seseorang yang hanya membuatmu patah hati, lupakan dan lihatlah ke depan, kamu hidup bukan untuk mengejar orang itu saja”.

Hadi berjalan dengan langkah besar menuju kelasnya, ia ingin menghindari sesuatu yang baginya adalah bencana yang luar biasa jika sesuatu itu mengganggunya, membuat otaknya memanas dan hampir meledak karena sesuatu itu. Selangkah lagi ia memasuki kelasnya itu, terdengar suara melengking dari ujung sana, Hadi memejamkan matanya takut, astaga, mati saja ia.

“Hadi! Tungguin gue dong!” Bukannya menunggu orang yang memanggilnya, ia malah masuk ke kelasnya dan langsung menutup pintu kelas itu, semua orang yang ada di dalam menatapnya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, mereka sudah hafal suasana ini, setiap hari dan berulang-ulang.

“Kusuma, bilangin si sinting itu kalo gue belum dateng ya, gue mau sembunyi dulu.” Setelah berkata seperti itu kepada ketua kelasnya, lalu ia berlari ke arah meja guru dan bersembunyi di bawahnya, semua teman sekelasnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Hadi dan Dewi “si sinting” yang disebutkan oleh Hadi tadi,- bagai anak kecil yang sedang bermain petak umpet, Hadi yang ngumpet dan Dewi yang mencari, begitulah suasana kelas mereka setiap pagi.

Brak! Pintu yang diganjal oleh beberapa anak laki-laki itu didobrak oleh gadis sinting yang sedang mencari lelaki lawan main petak umpetnya, anak laki-laki yang menahan pintu itu tersungkur ke depan dan mengaduh kesakitan, dasar Dewi, badan mungil tetapi kekuatan macam Hulk.

Mata Dewi mulai mencari-cari keberadaan Hadi, ia sebenarnya sudah tahu di mana Hadi, tetapi ia ingin bermain-main sebentar, berjalan kesana kemari di area kelas yang cukup luas, mencari di kolong meja semua temannya, dan akhirnya ia bertanya kepada ketua kelas yang sok bijaksana.
“Mana Hadi?” Ia bertanya dengan nada tenang, ujung matanya terus melirik ke arah kolong meja guru, ada sesuatu berwarna abu-abu dan hitam yang ia yakini pasti Hadi.
“Belum dateng,” seperti yang telah ia duga, Kusuma pasti mejawab pertanyaannya dengan jawaban tersebut, maka dari itu ia meninggalkan Kusuma dan mulai berjalan ke arah meja guru.

Sementara Dewi berjalan menuju meja guru, yang bersembunyi malah mengigil setengah mati, ia tidak mau emosinya meledak karena gadis sinting yang notabenenya adalah sahabat sekaligus musuh yang sangat mengganggunya.

“Ciluk Baaa!” Wajah menyebalkan Dewi muncul membuat Hadi terkejut.

Hadi dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya, ia berdecak kesal, lalu keluar dari tempat persembunyiannya itu, seluruh teman-temannya terkekeh melihat pertunjukkan dua anak remaja yang seperti anak kecil yang kurang bahagia saat kecilnya.
"Lo kenapa gak nungguin gue sih?” Dewi bertanya dengan nada sok merajuk.
“Lo nyebelin, pengen gue tampol.” Hadi mengibas-ibaskan debu yang menempel pada seragamnya sembari berjalan menuju bangkunya yang terletak di urutan nomor tiga dinding sebelah kanan dekat pintu.
“Tapi ayah kan udah nyuruh lo buat barengan sama gue.”

Hadi memutar bola matanya malas, ia kadang kesal dengan Dewi ini, bukan kadang lagi melainkan selalu kesal dengan gadis sinting yang ada di sampingnya ini, selalu mengganggu dirinya dengan suara melengking dan membahana yang dapat membuat telinga orang lain langsung bengkak karena suara Dewi, belum lagi celotehan atau kegiatannya yang selalu mengganggu Hadi membuat Hadi naik darah dan ingin melemparkan gadis sinting ini ke kutub utara agar mati dan tak mengganggunya lagi, kejam memang, tetapi begitulah hal yang terpikirkan oleh Hadi di benaknya.

“Gue tadi udah nunggu lo ya di depan rumah, kata bunda, lo masih dandan, udah tau muka jelek, mau didandan gimana pun, muka lo masih tetep kek nenek lampir, yaudah gue tinggalin.” Ujarnya cuek, membuat Dewi berdecak pelan.
“Masih mending gue kek nenek lampir, daripada lo, muka kek pantat panci gosong aja bangga. Udah, lo jauh-jauh dari gue.” Dewi mengambil spidol di dalam kotak pensil bergambar Doraemon miliknya, lalu memberi batas di tengah-tengah meja Dewi dan Hadi.
“Lo ngapain sih? Jelas-jelas lo yang ganggu, kenapa lo yang ngambekan coba?” Hadi menyingkirkan tangan Dewi yang sibuk membuat batas pada meja mereka.
“Lo ngatain gue sih!”
Hadi menggeleng, mimpi apa ia punya sahabat seperti Dewi ini? Si sinting yang awalnya mengganggu eh ia juga yang merajuk, maunya apa perempuan ini?
Hadi tidak menanggapi lagi gadis sinting di sebelahnya ini, kepalanya ia hadapkan ke jendela, menunggu bel pulang berbunyi.
Dewi menunggu dengan bosan di kamar Hadi, sore ini Hadi ingin bercerita dengannya, tidak tahu apa yang akan diceritakan Hadi, sebagai seorang sahabat yang baik ia harus mendengarkan cerita Hadi, siapa tahu kalau Hadi ingin cerita mengenai perasaannya terhadap Dewi.

Pintu kamar Hadi terbuka dan tampaklah wanita yang usianya hampir setengah abad tersenyum dan menghampiri Dewi sambil membawa nampan yang berisi susu strawberi dan coklat kesukaan mereka berdua dan beberapa makanan ringan.
“Hadi belum selesai mandinya, Dewi?” Wanita itu bertanya dengan nada lembut khas keibuan pada Dewi.
Dewi menggeleng samar, “belum ma, lama banget si tuyul itu.”

Wanita yang dipanggil mama oleh Dewi itu tersenyum lebar, anak tetangganya ini yang menjadi sahabat anaknya dari kecil ini memang bisa membuat suasana hatinya bahagia, dengan tingkah dan ucapannya yang asal ceplos saja.
“Namanya juga Hadi, mandi sebentar itu keajaiban,” mama Hadi meng-iyakan ucapan Dewi.
“Ma, Dewi laper. Tadi padahal udah makan dua mangkok mie bakso buatan bunda, tapi laper lagi, mama masak apa?”
“Dasar ya perut karet, mama cuma buat sop dan perkedel, yuk kalo mau makan, tinggalin aja tuyul itu.”
Dewi mengangguk, ia lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh mama Hadi. Belum sempat mereka berdua keluar dari kamar Hadi, terdengar suara decitan pintu kamar mandi dan suara bass laki-laki bertanya, “mau ke mana kalian?”
“Eh, si tuyul udah selesai mandinya, mau makan bentar ya.”
“Eh, ntar dong makannya, dengerin gue cerita dulu,”

Dewi berdecak, sedangkan mama Hadi sudah keluar dari kamar Hadi, ia tidak ingin mendengarkan perdebatan yang tiada habisnya dari dua anak remaja yang seperti anak kecil itu, lebih baik ia keluar daripada mendengarkan perdebatan tersebut. Di dalam perdebatan dua remaja ini, tidak ada yang mau mengalah sama sekali, kalau sedang bijak saja Hadi atau Dewi yang akan mengalah, tetapi kalau otak mereka sedang batu-batunya, jangan harap perdebatan tersebut selesai.

Sepertinya, kali ini Dewi lah yang mengalah, ia dengan terpaksa menahan rasa laparnya untuk mendengarkan cerita Hadi si tuyul. Kali ini, Hadi merasa menang, ia sudah lelah mengalah dengan Dewi.

“Cepetan! yaelah.” Dewi berucap kesal sambil melipat tangannya di dadanya dan duduk di kasur empuk milik Hadi.
Hadi ikut duduk di kasurnya, ia tersenyum, dan memulai ceritanya.
“Gue lagi suka sama adek kelas, Dewi.” Hadi memulai ceritanya.

Deegg! Entah kenapa terbesit rasa sakit di lubuk hati Dewi, ia merasa sakit saat tahu Hadi menyukai orang lain, perasaannya tak terbalaskan. Ia sangat tak menyangka jika Hadi menyukai orang lain, ia kira perasaannya terbalaskan, rupanya tidak. Percuma saja ia mengejar dan selalu mengganggu Hadi, ternyata perjuangannya sia-sia. Hadi menyukai orang lain, itulah faktanya.
Bahu Dewi diguncang-guncangkan oleh Hadi, bukannya mendengar cerita dari Hadi, Dewi malah melamun dengan pandangan lurus ke depan, sia-sia saja mulutnya berkoar-koar cerita tetapi tidak didengarkan.

“Hah? Kenapa Hadi?” Dewi tersadar dari lamunannya, membuat Hadi berdecak kesal.
“Lo dari tadi gak dengerin gue cerita, rese lo. Gak mau cerita ah,” Hadi merajuk.
“Lebay lo ah, gue dengerin nih, jadi lo jangan ngambekan. Cepetan cerita atau gue tinggal buat makan karena dari tadi gue udah nahan laper dan gue rela nahan rasa laper buat dengerin cerita lo.” Dewi berujar ketus.
“Awas lo ya gak dengerin gue. Gue lagi suka sama adek kelas, dia orangnya cantik, polos-polos gimana gitu. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, Dewi.”
Dewi memutar bola matanya malas. “Bisa ya lo suka sama orang, gue kira lo gak bisa suka sama orang.” Dewi mengejek.
“Bisalah, gak kayak lo. Gue lanjut lagi ya. Nah, gue pengen ngungkapin rasa suka gue ke dia Dewi. Sebagai cewek, lo pasti tau kan apa aja yang biasanya disukai cewek. Gue pengen minta bantuan lo buat nyiapin Kusumaah untuk dia, gue pengen ngungkapinnya secepat-cepatnya.” Hadi berkata dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia sangat bahagia bisa menceritakan hal ini pada sahabatnya, sedangkan Dewi hanya tersenyum masam menahan rasa sakit hatinya.
“O..oke, tapi lo temenin gue ya. Gue balik dulu.” Dewi beranjak dari kasurnya Hadi, sementara Hadi melongo melihat Dewi, buru-buru ia menahan tangan Dewi sebelum ia keluar dari kamarnya.

Hadi membalikkan badan Dewi yang tengah menunduk, ia heran dengan sikap Dewi, bukankah Dewi biasa-biasa saja tadi, kenapa sekarang menjadi muram begini. Ia sangat tahu ada sesuatu yang membuat suasana hati Dewi berubah tiba-tiba begini, mungkin karena ceritanya kurang menarik.

Dilihatnya gadis di hadapannya yang sedang menunduk, ia meraih dagu Dewi namun gadis itu menolak, membuat Hadi semakin terheran-heran. “Lo kenapa sih?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Hadi, ini bukan Dewi yang ia sebut gadis sinting seperti biasanya, ini bukan Dewi yang selalu ceria, ini gadis lain bukan Dewi.
Dewi hanya menggeleng, melepaskan tangan Hadi dengan pelan, kemudian berbalik pergi setengah berlari agar Hadi tak dapat menarik lengannya seperti tadi, ia tidak ingin melihat Hadi, ia tidak ingin Hadi melihatnya menangis, ia hanya perlu menenangkan dirinya di kamar dengan setumpuk novel usangnya, Kusumaah ulang tahun yang diberikan Hadi untuknya setiap tahun.
Saat turun dari kamar Hadi, ia melihat mama Hadi yang tengah menunggunya di ruang makan, “mau ke mana Dewi? Gak jadi makan sama mama?” pertanyaan yang dilontarkan mama Hadi hanya dibalasnya dengan senyuman sayu, lalu berlalu pergi keluar menuju rumahnya.

Pintu kamar Hadi diketuk lembut oleh seseorang, entah kenapa hatinya sedang kacau sekarang, ia sangat tidak menyukai kalau Dewi begitu, ia suka Dewi yang selalu ceria, bukan yang bermuram masam seperti tadi dan tanpa alasan jelas ia meninggalkan Hadi di kamarnya.


Minggu, 29 Desember 2019

KEPING HATI DI SENJA



“KEPING HATI DI SENJA”
Saat itu Aku dan Dia pergi ke pantai yang tidak jauh dari tempat tinggal kami berdua, setelah sampai di pantai kami mencari tempat yang menurut kami cocok untuk melihat mentari yang perlahan-lahan terbenam. Semburat jingga di sudut langit mamantul ke air laut. Menghias bias bayangan diriku dan dirinya yang ikut terpantul. Anginya lembut menghembus wajah kami, dan menerbangkan desah jiwa kami,.
Kupandang wajahnya, yang dingin seperti biasanya. Sebersit ingatan tentang malam kemarin membuat dadaku kembali terasa sesak. Sadarkah ia yang telah memeluk kakakku kemarin, dengan tulusnya.. aku tau, Dirinya belajar di luar pulau seperti kakakku. Kini keduanya di Jepang, bersamaku. Dan aku, mulai mengerti bagaimana jalan cerita ini, layaknya alur roman yang sendu.
Dewi menatapku, membuatku bergetar dan ingin menjauh darinya. Tapi cercah cahaya itu berkata lain, seakan mengikat kami dalam satu hubungan yang rumit. Kau milik Key, tak sepantasnya kau bersikap ini padaku. Kau membuatku kembali bingung dengan putusanku untuk menjauhimu. “Tolong! Berhentilah dengan sikapmu ini. Teriakku dalam hati”.
Dewi diam, seakan begitu menikmati senja bersamaku. Sakit ini, terasa tak bisa kutahan lagi. Aku menangis tanpa dasar disisinya. Tetes tetes itu mulai meleleh, mengalir dipipiku dengan cepat. Sementara kualihkan pandangan ke depan tanpa menatapnya.
Semua gelap, hitam. Mataku, tertutup oleh sentuhan tangan itu. Ya, Dewi menutup mataku dari belakang. Dan tak pernah kurasakan sentuhan paling tulus, selain sentuhannya. “Biarkan seperti ini, Kusuma. Biarkan jemariku yang menghapusnya. Maaf, aku tak mampu melindungi wajahmu dari air mata sendu ini. Maaf dan maaf” (ucap Dewi di belakangku). Aku terkejut. Tapi entahlah, aku hanya merasa nyaman dengannya meski aku tau Dewi tak mungkin jadi milikku. Pikirku saat itu, tanpa tau apa yang Dewi pikirkan.
Senja kian tenggelam, lilin lilin tegak itu kehabisan cahaya. Berangsur redup dan hilang. Aku kembali tenang, bersama Dewi yang telah berada di sampingku. Mata kami, menatap cahaya langit senja. Menatap lukisan alam mega-mega abstrak. Membuat siluet tentang dua remaja yang beradu pikiran tanpa mengetahui pikiran yang lainnya. Yang saling memendam rasa dan  cinta.
Sepoian angin senja sedikit bertambah kencang. Dan seketika itu, tetesan air langit mulai jatuh dan berguguran. Membasahi kami dengan kesejukannya, menerpa kami dengan ketenangan. Menyadarkanku, bahwa gerimis ini tak mungkin untuk diangkat kembali ke atas sana, dan dimulai bersama Dewi yang tak mungkin dapat dihapus, dan dimulai kembali dengan baik.

Kusuma : “Dewi... ucapku dalam hati”.
Dewi : “Kusuma … ucap Dewi dihati,(tanpa sedikitpun kutahui)”.
                 “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
Kusuma : “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
               “Seperti kau yang tadi menghapus air mataku”.
                 “ Seperti kau yang tengah menemaniku saat ini”.
                 “Walaupun aku tau, ini hanya akan menjadi harapan belaka”.
Dewi :“Aku yakin ini tak akan menjadi harapan yang sia sia Kusuma”.
                 “Semoga, kau bahagia saat tiba waktunya nanti”.
Kusuma :“Lupakan aku, Dewi”.
Dewi :“Tunggulah aku, Kusuma”.

Jingga di kala senja telah lenyap termakan gelapnya malam. Meski begitu terang bulan di atas menggantikan cahaya mentari yang hilang. Aku menatap samar wajah wanita disampingku ini. “bisakah kita pulang Dewi”(ucapku). Dewi menoleh dan ia tersenyum tipis. 
“Iya” (ucapnya). Kami pun beranjak dari tempat duduk kami berdua dan akhirnya kami pun pulang.