Ia membuka pintu kamarnya dan tampaklah mamanya dengan raut wajah khawatir, sepertinya mamanya ini mengetahui apa yang terjadi pada Dewi atau hanya melihat penampilan Dewi dan kemarin hanya untuk menanyakan ada apa yang terjadi antara mereka.
Mamanya buru-buru masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasur miliknya, wajah mamanya masih menunjukkan raut khawatir, Hadi mendekati mamanya dan ikut duduk di tepi kasur samping mamanya.
“Ada masalah apa Kamu sama Dewi?” Benar tebakan Hadi, mamanya pasti akan menanyakan hal itu, tetapi Hadi tidak dapat menjawabnya, ia saja tidak mengetahui kenapa Dewi tiba-tiba bersikap seperti tadi, diluar dugaannya sekali.
“Hadi gak tau ma, tiba-tiba dia mau pulang, terus Hadi tahan, Hadi tanya kenapa dia Cuma nunduk terus geleng, pergi keluar.” Ungkap Hadi sekenanya dan sebenarnya.
“Mama lihat Dewi tadi menangis, mama kira kalian berantem, Kamu tadi bahas apa sama Dewi, mungkin ada kata-kata yang nyakitin hati Dewi,” Mamanya bertanya dengan lembut.
Hadi merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia hanya bercerita dengan Dewi perihal akan mengungkakan perasaan kepada adik kelasnya itu secepatnya, Dewi juga sudah sepakat untuk membantunya, kenapa Dewi dapat berubah menjadi muram seperti itu, ia sendiri heran.
“Kamu harus cari tau, perbaiki hubungan kalian seperti biasanya, jangan perang dingin seperti ini. Mama keluar dulu, ya. Kamu pasti tahu jawabannya nanti.” Setelah berkata seperti itu, mama Hadi keluar meninggalkan lelaki itu yang termenung sendirian.
Esok paginya, tidak ada suara lengkingan milik Dewi yang merasuki gendang telinganya, tak ada lagi gangguan-gangguan dari Dewi, mereka sebangku namun seperti saling tak kenal, tak ada yang berani untuk memulai pembicaraan, semua makhluk yang ada di dalam kelas merasa heran karena tidak biasanya mereka berdua perang dingin seperti ini, biasanya ada saja keriuhan yang disebabkan oleh mereka berdua.
Sepanjang pelajaran, Hadi merasa ada yang kurang dalam hari-harinya, sesuatu yang memang harus menjadi santapan paginya, namun sekarang telah hilang. Kemana gangguan-gangguan yang ditujukan untuknya dari Dewi, mana celotehan-celotehan yang bisa membuat telinganya panas dan otaknya yang hampir meledak, ia kehilangan hal itu, ia sangat merasa kehilangan.
Ia ingin memulai bicara dengan sahabatnya ini, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sepatah kata pun, bibirnya seperti ada perekat yang membuatnya terus merapat saat ingin berbicara dengan Dewi. Hatinya terasa sesak saat Dewi melengos dan memalingkan wajahnya kalau mereka berpapasan, cukup sudah, Hadi sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Dewi yang menjauhinya.
Dewi duduk di halte bus, karena kesibukan OSIS nya, ia jadi pulang terlalu sore, ia cemas apakah ada bus atau taksi yang lewat. Sudah hampir se-jam ia menunggu bus atau taksi, bunda dan ayahnya sudah berkali-kali menghubunginya dan hanya dijawabnya, “urusan OSIS Dewi belum selesai.” Tentu saja ia berbohong, ia tidak ingin orangtuanya cemas, ia bisa jaga diri.
Tak lama dari itu, rintik hujan mulai menyelimuti jalan aspal. Hawa dingin mulai merasuki tubuh Dewi, diraba-rabanya tas mencari sesuatu, tetapi nihil. Sial sekali, payung dan jaket tak ia bawa, habis sudah nasib dirinya membeku di halte bus ini.
Terbesit keinginan dalam hatinya untuk menghubungi Hadi, namun egonya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada Hadi, ia sudah berniat untuk menjauhi lelaki itu, takut-takut perasaannya semakin besar dan semakin ia sakit hati.
Bibir Dewi mulai pucat, tangan serta buku jarinya mulai terlihat putih, hujan masih terus membasahi jalan, lampu-lampu mulai menyala menerangi sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda apapun taksi lewat.
Dewi menunduk, lalu mendongak saat ada sinar yang menyinari tepat di wajahnya, ia menyipit, itu motor Hadi, jelas sekali. Dalam benaknya, untuk apa Hadi menjemputnya, toh lelaki itu menyukai orang lain, kenapa Hadi harus repot-repot memperdulikan dirinya?
“Dewi! Pulang sekarang!” Hadi turun dari motor dengan keadaan basah kuyup, wajahnya menyiratkan kekhawatiran, tangannya langsung menggenggam lengan Dewi dan menariknya menuju motor.
“Gue gak mau pulang sama lo! Gue bisa naik taksi, lo duluan aja.” Dewi menghempaskan tangannya kasar, berujar dengan nada sedikit berteriak karena suara hujan yang menghalangi.
“Bunda nelepon gue, dia cemas banget sama lo, Wik.”
Dewi masih tetap dalam pendiriannya, ia menggeleng keras. “Bilangin bunda, kalo gue masih ada urusan di sekolah, lo pulang duluan, gue gak mau pulang sama lo.”
“Gue salah apa sama lo, Wik? Sampe-sampe lo gak mau pulang sama gue? Gue udah muak Wik dengan sikap lo yang seperti ini, gue pengen lo yang dulu, Dewi. Yang selalu ganggu gue, yang selalu buat gue marah, gue pengen semua itu terjadi lagi seperti biasa, Wik.”
“Gak! Kita gak bisa seperti dulu, gue harus jaga jarak sama lo, gue harus pergi jauh dari lo, gue gak mau deket sama lo lagi, selamanya.”
Hadi tersentak, ia sangat terkejut dengan perkataan Dewi barusan, ditatapnya gadis itu, wajahnya pucat dan air mata mulai mengaliri pipinya, direngkuhnya tubuh mungil Dewi membiarkan gadis itu menangis di dada bidang miliknya. (Hujan pun berhenti turun yang telah membasahi mereka berdua).
“Kasih tau gue alasannya, Wik. Gue tersiksa dengan sikap lo yang seperti ini.” Ujarnya dengan nada berbisik.
“Lo suka sama orang lain, di. Gue gak sanggup kalo deket dengan lo, hati gue selalu sakit kalau tau lo suka sama orang lain, gue gak kuat.”
Dieratkannya pelukan Dewi, “gue baru sadar, Dewi. Bukan dia yang gue suka, melainkan gadis yang berada di dalam pelukan gue ini, hidup gue berasa hampa tanpa dia, hati gue berdesir sakit setiap dia mengacuhkan gue, dan jantung gue selalu berdegup kencang bila dia di dekat gue.”
Dewi merenggangkan pelukannya, menatap manik mata Hadi, mencari kebohongan di sana, namun sepertinya kejujuran dan kesungguhan lah yang ada di manik tersebut.
“I love you my best friend. Jadi pacar sama sahabat gue ya.” Hadi berbisik lembut, semakin mengeratkan pelukannya.
Dan akhirnya mereka berdua pulang, ditengah perjalanan mereka melihat senja. Di senja ini, hanya hujan dan pepohonan yang menyaksikan mereka, kini Dewi tahu, usahanya tak sia-sia, perasaannya terbalaskan. Senja dan hujan, terima kasih telah menjadi saksi atas kejadian hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar