Senin, 30 Desember 2019

“SENJA DAN HUJAN”


“SENJA DAN HUJAN ( Part I )”

“Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar seseorang yang hanya membuatmu patah hati, lupakan dan lihatlah ke depan, kamu hidup bukan untuk mengejar orang itu saja”.

Hadi berjalan dengan langkah besar menuju kelasnya, ia ingin menghindari sesuatu yang baginya adalah bencana yang luar biasa jika sesuatu itu mengganggunya, membuat otaknya memanas dan hampir meledak karena sesuatu itu. Selangkah lagi ia memasuki kelasnya itu, terdengar suara melengking dari ujung sana, Hadi memejamkan matanya takut, astaga, mati saja ia.

“Hadi! Tungguin gue dong!” Bukannya menunggu orang yang memanggilnya, ia malah masuk ke kelasnya dan langsung menutup pintu kelas itu, semua orang yang ada di dalam menatapnya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, mereka sudah hafal suasana ini, setiap hari dan berulang-ulang.

“Kusuma, bilangin si sinting itu kalo gue belum dateng ya, gue mau sembunyi dulu.” Setelah berkata seperti itu kepada ketua kelasnya, lalu ia berlari ke arah meja guru dan bersembunyi di bawahnya, semua teman sekelasnya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Hadi dan Dewi “si sinting” yang disebutkan oleh Hadi tadi,- bagai anak kecil yang sedang bermain petak umpet, Hadi yang ngumpet dan Dewi yang mencari, begitulah suasana kelas mereka setiap pagi.

Brak! Pintu yang diganjal oleh beberapa anak laki-laki itu didobrak oleh gadis sinting yang sedang mencari lelaki lawan main petak umpetnya, anak laki-laki yang menahan pintu itu tersungkur ke depan dan mengaduh kesakitan, dasar Dewi, badan mungil tetapi kekuatan macam Hulk.

Mata Dewi mulai mencari-cari keberadaan Hadi, ia sebenarnya sudah tahu di mana Hadi, tetapi ia ingin bermain-main sebentar, berjalan kesana kemari di area kelas yang cukup luas, mencari di kolong meja semua temannya, dan akhirnya ia bertanya kepada ketua kelas yang sok bijaksana.
“Mana Hadi?” Ia bertanya dengan nada tenang, ujung matanya terus melirik ke arah kolong meja guru, ada sesuatu berwarna abu-abu dan hitam yang ia yakini pasti Hadi.
“Belum dateng,” seperti yang telah ia duga, Kusuma pasti mejawab pertanyaannya dengan jawaban tersebut, maka dari itu ia meninggalkan Kusuma dan mulai berjalan ke arah meja guru.

Sementara Dewi berjalan menuju meja guru, yang bersembunyi malah mengigil setengah mati, ia tidak mau emosinya meledak karena gadis sinting yang notabenenya adalah sahabat sekaligus musuh yang sangat mengganggunya.

“Ciluk Baaa!” Wajah menyebalkan Dewi muncul membuat Hadi terkejut.

Hadi dengan cepat menetralkan rasa terkejutnya, ia berdecak kesal, lalu keluar dari tempat persembunyiannya itu, seluruh teman-temannya terkekeh melihat pertunjukkan dua anak remaja yang seperti anak kecil yang kurang bahagia saat kecilnya.
"Lo kenapa gak nungguin gue sih?” Dewi bertanya dengan nada sok merajuk.
“Lo nyebelin, pengen gue tampol.” Hadi mengibas-ibaskan debu yang menempel pada seragamnya sembari berjalan menuju bangkunya yang terletak di urutan nomor tiga dinding sebelah kanan dekat pintu.
“Tapi ayah kan udah nyuruh lo buat barengan sama gue.”

Hadi memutar bola matanya malas, ia kadang kesal dengan Dewi ini, bukan kadang lagi melainkan selalu kesal dengan gadis sinting yang ada di sampingnya ini, selalu mengganggu dirinya dengan suara melengking dan membahana yang dapat membuat telinga orang lain langsung bengkak karena suara Dewi, belum lagi celotehan atau kegiatannya yang selalu mengganggu Hadi membuat Hadi naik darah dan ingin melemparkan gadis sinting ini ke kutub utara agar mati dan tak mengganggunya lagi, kejam memang, tetapi begitulah hal yang terpikirkan oleh Hadi di benaknya.

“Gue tadi udah nunggu lo ya di depan rumah, kata bunda, lo masih dandan, udah tau muka jelek, mau didandan gimana pun, muka lo masih tetep kek nenek lampir, yaudah gue tinggalin.” Ujarnya cuek, membuat Dewi berdecak pelan.
“Masih mending gue kek nenek lampir, daripada lo, muka kek pantat panci gosong aja bangga. Udah, lo jauh-jauh dari gue.” Dewi mengambil spidol di dalam kotak pensil bergambar Doraemon miliknya, lalu memberi batas di tengah-tengah meja Dewi dan Hadi.
“Lo ngapain sih? Jelas-jelas lo yang ganggu, kenapa lo yang ngambekan coba?” Hadi menyingkirkan tangan Dewi yang sibuk membuat batas pada meja mereka.
“Lo ngatain gue sih!”
Hadi menggeleng, mimpi apa ia punya sahabat seperti Dewi ini? Si sinting yang awalnya mengganggu eh ia juga yang merajuk, maunya apa perempuan ini?
Hadi tidak menanggapi lagi gadis sinting di sebelahnya ini, kepalanya ia hadapkan ke jendela, menunggu bel pulang berbunyi.
Dewi menunggu dengan bosan di kamar Hadi, sore ini Hadi ingin bercerita dengannya, tidak tahu apa yang akan diceritakan Hadi, sebagai seorang sahabat yang baik ia harus mendengarkan cerita Hadi, siapa tahu kalau Hadi ingin cerita mengenai perasaannya terhadap Dewi.

Pintu kamar Hadi terbuka dan tampaklah wanita yang usianya hampir setengah abad tersenyum dan menghampiri Dewi sambil membawa nampan yang berisi susu strawberi dan coklat kesukaan mereka berdua dan beberapa makanan ringan.
“Hadi belum selesai mandinya, Dewi?” Wanita itu bertanya dengan nada lembut khas keibuan pada Dewi.
Dewi menggeleng samar, “belum ma, lama banget si tuyul itu.”

Wanita yang dipanggil mama oleh Dewi itu tersenyum lebar, anak tetangganya ini yang menjadi sahabat anaknya dari kecil ini memang bisa membuat suasana hatinya bahagia, dengan tingkah dan ucapannya yang asal ceplos saja.
“Namanya juga Hadi, mandi sebentar itu keajaiban,” mama Hadi meng-iyakan ucapan Dewi.
“Ma, Dewi laper. Tadi padahal udah makan dua mangkok mie bakso buatan bunda, tapi laper lagi, mama masak apa?”
“Dasar ya perut karet, mama cuma buat sop dan perkedel, yuk kalo mau makan, tinggalin aja tuyul itu.”
Dewi mengangguk, ia lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh mama Hadi. Belum sempat mereka berdua keluar dari kamar Hadi, terdengar suara decitan pintu kamar mandi dan suara bass laki-laki bertanya, “mau ke mana kalian?”
“Eh, si tuyul udah selesai mandinya, mau makan bentar ya.”
“Eh, ntar dong makannya, dengerin gue cerita dulu,”

Dewi berdecak, sedangkan mama Hadi sudah keluar dari kamar Hadi, ia tidak ingin mendengarkan perdebatan yang tiada habisnya dari dua anak remaja yang seperti anak kecil itu, lebih baik ia keluar daripada mendengarkan perdebatan tersebut. Di dalam perdebatan dua remaja ini, tidak ada yang mau mengalah sama sekali, kalau sedang bijak saja Hadi atau Dewi yang akan mengalah, tetapi kalau otak mereka sedang batu-batunya, jangan harap perdebatan tersebut selesai.

Sepertinya, kali ini Dewi lah yang mengalah, ia dengan terpaksa menahan rasa laparnya untuk mendengarkan cerita Hadi si tuyul. Kali ini, Hadi merasa menang, ia sudah lelah mengalah dengan Dewi.

“Cepetan! yaelah.” Dewi berucap kesal sambil melipat tangannya di dadanya dan duduk di kasur empuk milik Hadi.
Hadi ikut duduk di kasurnya, ia tersenyum, dan memulai ceritanya.
“Gue lagi suka sama adek kelas, Dewi.” Hadi memulai ceritanya.

Deegg! Entah kenapa terbesit rasa sakit di lubuk hati Dewi, ia merasa sakit saat tahu Hadi menyukai orang lain, perasaannya tak terbalaskan. Ia sangat tak menyangka jika Hadi menyukai orang lain, ia kira perasaannya terbalaskan, rupanya tidak. Percuma saja ia mengejar dan selalu mengganggu Hadi, ternyata perjuangannya sia-sia. Hadi menyukai orang lain, itulah faktanya.
Bahu Dewi diguncang-guncangkan oleh Hadi, bukannya mendengar cerita dari Hadi, Dewi malah melamun dengan pandangan lurus ke depan, sia-sia saja mulutnya berkoar-koar cerita tetapi tidak didengarkan.

“Hah? Kenapa Hadi?” Dewi tersadar dari lamunannya, membuat Hadi berdecak kesal.
“Lo dari tadi gak dengerin gue cerita, rese lo. Gak mau cerita ah,” Hadi merajuk.
“Lebay lo ah, gue dengerin nih, jadi lo jangan ngambekan. Cepetan cerita atau gue tinggal buat makan karena dari tadi gue udah nahan laper dan gue rela nahan rasa laper buat dengerin cerita lo.” Dewi berujar ketus.
“Awas lo ya gak dengerin gue. Gue lagi suka sama adek kelas, dia orangnya cantik, polos-polos gimana gitu. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, Dewi.”
Dewi memutar bola matanya malas. “Bisa ya lo suka sama orang, gue kira lo gak bisa suka sama orang.” Dewi mengejek.
“Bisalah, gak kayak lo. Gue lanjut lagi ya. Nah, gue pengen ngungkapin rasa suka gue ke dia Dewi. Sebagai cewek, lo pasti tau kan apa aja yang biasanya disukai cewek. Gue pengen minta bantuan lo buat nyiapin Kusumaah untuk dia, gue pengen ngungkapinnya secepat-cepatnya.” Hadi berkata dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia sangat bahagia bisa menceritakan hal ini pada sahabatnya, sedangkan Dewi hanya tersenyum masam menahan rasa sakit hatinya.
“O..oke, tapi lo temenin gue ya. Gue balik dulu.” Dewi beranjak dari kasurnya Hadi, sementara Hadi melongo melihat Dewi, buru-buru ia menahan tangan Dewi sebelum ia keluar dari kamarnya.

Hadi membalikkan badan Dewi yang tengah menunduk, ia heran dengan sikap Dewi, bukankah Dewi biasa-biasa saja tadi, kenapa sekarang menjadi muram begini. Ia sangat tahu ada sesuatu yang membuat suasana hati Dewi berubah tiba-tiba begini, mungkin karena ceritanya kurang menarik.

Dilihatnya gadis di hadapannya yang sedang menunduk, ia meraih dagu Dewi namun gadis itu menolak, membuat Hadi semakin terheran-heran. “Lo kenapa sih?” pertanyaan itu meluncur dari bibir Hadi, ini bukan Dewi yang ia sebut gadis sinting seperti biasanya, ini bukan Dewi yang selalu ceria, ini gadis lain bukan Dewi.
Dewi hanya menggeleng, melepaskan tangan Hadi dengan pelan, kemudian berbalik pergi setengah berlari agar Hadi tak dapat menarik lengannya seperti tadi, ia tidak ingin melihat Hadi, ia tidak ingin Hadi melihatnya menangis, ia hanya perlu menenangkan dirinya di kamar dengan setumpuk novel usangnya, Kusumaah ulang tahun yang diberikan Hadi untuknya setiap tahun.
Saat turun dari kamar Hadi, ia melihat mama Hadi yang tengah menunggunya di ruang makan, “mau ke mana Dewi? Gak jadi makan sama mama?” pertanyaan yang dilontarkan mama Hadi hanya dibalasnya dengan senyuman sayu, lalu berlalu pergi keluar menuju rumahnya.

Pintu kamar Hadi diketuk lembut oleh seseorang, entah kenapa hatinya sedang kacau sekarang, ia sangat tidak menyukai kalau Dewi begitu, ia suka Dewi yang selalu ceria, bukan yang bermuram masam seperti tadi dan tanpa alasan jelas ia meninggalkan Hadi di kamarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar