Minggu, 29 Desember 2019

KEPING HATI DI SENJA



“KEPING HATI DI SENJA”
Saat itu Aku dan Dia pergi ke pantai yang tidak jauh dari tempat tinggal kami berdua, setelah sampai di pantai kami mencari tempat yang menurut kami cocok untuk melihat mentari yang perlahan-lahan terbenam. Semburat jingga di sudut langit mamantul ke air laut. Menghias bias bayangan diriku dan dirinya yang ikut terpantul. Anginya lembut menghembus wajah kami, dan menerbangkan desah jiwa kami,.
Kupandang wajahnya, yang dingin seperti biasanya. Sebersit ingatan tentang malam kemarin membuat dadaku kembali terasa sesak. Sadarkah ia yang telah memeluk kakakku kemarin, dengan tulusnya.. aku tau, Dirinya belajar di luar pulau seperti kakakku. Kini keduanya di Jepang, bersamaku. Dan aku, mulai mengerti bagaimana jalan cerita ini, layaknya alur roman yang sendu.
Dewi menatapku, membuatku bergetar dan ingin menjauh darinya. Tapi cercah cahaya itu berkata lain, seakan mengikat kami dalam satu hubungan yang rumit. Kau milik Key, tak sepantasnya kau bersikap ini padaku. Kau membuatku kembali bingung dengan putusanku untuk menjauhimu. “Tolong! Berhentilah dengan sikapmu ini. Teriakku dalam hati”.
Dewi diam, seakan begitu menikmati senja bersamaku. Sakit ini, terasa tak bisa kutahan lagi. Aku menangis tanpa dasar disisinya. Tetes tetes itu mulai meleleh, mengalir dipipiku dengan cepat. Sementara kualihkan pandangan ke depan tanpa menatapnya.
Semua gelap, hitam. Mataku, tertutup oleh sentuhan tangan itu. Ya, Dewi menutup mataku dari belakang. Dan tak pernah kurasakan sentuhan paling tulus, selain sentuhannya. “Biarkan seperti ini, Kusuma. Biarkan jemariku yang menghapusnya. Maaf, aku tak mampu melindungi wajahmu dari air mata sendu ini. Maaf dan maaf” (ucap Dewi di belakangku). Aku terkejut. Tapi entahlah, aku hanya merasa nyaman dengannya meski aku tau Dewi tak mungkin jadi milikku. Pikirku saat itu, tanpa tau apa yang Dewi pikirkan.
Senja kian tenggelam, lilin lilin tegak itu kehabisan cahaya. Berangsur redup dan hilang. Aku kembali tenang, bersama Dewi yang telah berada di sampingku. Mata kami, menatap cahaya langit senja. Menatap lukisan alam mega-mega abstrak. Membuat siluet tentang dua remaja yang beradu pikiran tanpa mengetahui pikiran yang lainnya. Yang saling memendam rasa dan  cinta.
Sepoian angin senja sedikit bertambah kencang. Dan seketika itu, tetesan air langit mulai jatuh dan berguguran. Membasahi kami dengan kesejukannya, menerpa kami dengan ketenangan. Menyadarkanku, bahwa gerimis ini tak mungkin untuk diangkat kembali ke atas sana, dan dimulai bersama Dewi yang tak mungkin dapat dihapus, dan dimulai kembali dengan baik.

Kusuma : “Dewi... ucapku dalam hati”.
Dewi : “Kusuma … ucap Dewi dihati,(tanpa sedikitpun kutahui)”.
                 “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
Kusuma : “Kuharap, kau selalu ada disisiku, seperti ini”.
               “Seperti kau yang tadi menghapus air mataku”.
                 “ Seperti kau yang tengah menemaniku saat ini”.
                 “Walaupun aku tau, ini hanya akan menjadi harapan belaka”.
Dewi :“Aku yakin ini tak akan menjadi harapan yang sia sia Kusuma”.
                 “Semoga, kau bahagia saat tiba waktunya nanti”.
Kusuma :“Lupakan aku, Dewi”.
Dewi :“Tunggulah aku, Kusuma”.

Jingga di kala senja telah lenyap termakan gelapnya malam. Meski begitu terang bulan di atas menggantikan cahaya mentari yang hilang. Aku menatap samar wajah wanita disampingku ini. “bisakah kita pulang Dewi”(ucapku). Dewi menoleh dan ia tersenyum tipis. 
“Iya” (ucapnya). Kami pun beranjak dari tempat duduk kami berdua dan akhirnya kami pun pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar