Rabu, 08 Januari 2020

TERPENDAM


"Tanpa Sebab Aku Mencintaimu"
Malam mulai menjelang, sang surya yang terang benderang tadi terganti oleh redupnya sang rembulan, di teras rumah di kursi reot hasil bikinanku tiga tahun yang lalu aku duduk termenung, hanya diteman gitar tua diseblahku.  “Hmmm.. aku masih jomblo” gumanku dalam hati. Sesekali tetangga yang lewat di depan rumah menyapaku, aku hanya menjawab sekenanya saja karena aku sedang malas beramah ria saat ini. Aku ingin menikmati kesendirianku karena memang sekarang aku lagi sendiri tanpa ada satu hati pun yang mengisi hari-hari ku.
Kenangan tentang mantan kekasih yang tiga tahun lalu memutusku melintas dalam benaku, aku berharap bisa mengusir bayangan itu dari benaku, memang tidak sepenuhnya berhasil tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Satu dua motor yang lewat hanya tambah membuatku merasa iri, mengapa sampai lulus MA aku belum pernah merasakan punya motor, ego mudaku mengalahkan realita aku tidak mau menyadari keadaan ekonomi keluarga kami, padahal untuk menyekolahkanku sampai lulus MA saja bapak harus rela berpanas-panasan di proyek dan ibu harus ikhlas berletih mencuci pakain tetangga. Gara-gara tidak punya motor inilah tiga tahun lalu aku diputusin, setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku, memang dia tidak mengungkapakan alasan ini sebagai alasan memutusku, tapi selang satu hari setelah dia memutuskan cintanya aku melihat dia sedang menggelayut mesra di punggung seorang cowok di atas motor bagiku itulah bukti otentik yang tersirat walau tidak tersurat.
Dari arah selatan rumah terdengar suara motor seakan mengejek dan menertawaiku, kuraih gitar usang yang sejak tadi tergeletak di sampingku memang benda ini lah satu-satunya sahabat sejatiku gitar usang ini siap setiap saat menemaniku dalam suka maupun duka, dulu ketika masih bersama orang yang kin telah menjadi mantan kekasihku kami sering bernyanyi bersama dengan ditemani benda ini, sekarang aku sedang sendiri juga ditemani benda ini.
Aku ingin memainkan gitar ini sekeras-kerasnya agar suara mesin motor yang makin lama makin mendekat tidak terdengar di telingaku, dan motor itu lewat juga di depanku tapi ada yang istimewa, bukan motornya tapi pengendaranya kulihat seorang gadis sedang belajar naik motor diajari oleh bapaknya. Aku kenal bapaknya tapi tidak tahu kalau bapak itu punya anak gadis karena memang tetangga jauh jadi wajar saja kalau aku tidak tau.
Tiba-tiba ada perasaan aneh menjalar di hatiku entah mengapa aku ingin tau lebih banyak tentang anak gadis itu, segera otaku kupaksa untuk berpikir keras bagaimana caranya aku dapat informasi tentang anak gadis bapak itu sampai akhirnya aku menemukan caranya. Tempat nongkrong… ya tempat itulah satu-satunya cara agar aku bisa menggali informasi tentang anak gadis itu, Aku pun segera berdiri kusambar sepeda onthelku ku kayuh menuju tempat nongkrong di pertigaan dekat warung.


“Tumben datang terlambat biasanya kau absen paling dulu” tegur Reza.
“Biasa Za…. kasih kesempatan teman yang lain masak predikat pecangkruk teladan selalu aku raih sekali- kali temen yang lainya lah” jawabku berdiplomasi.
“Ah paling kau habis diceramahi Bapakmu ya?” Andre ikut menimpali.
“Sembarangan aja gini-gini Aku anak kesayangan tau” jawabku.
“Kesayangan apa? Kemarin buktinya kau habis disiram air” Andre tidak mau kalah.
“Itu biar aku subur, tanaman kalau sering disiram kan jadi subur” Kelitku, padahal benar kata Andre kemarin Aku habis di siram air tapi bukan karena Bapak tidak sayang Aku.
“Memang kau ini pantesnya jadi pengacara” Kata Reza.
“Laah ini sudah jadi pengacara pengangguran banyak acara” Kataku, memang sengaja Aku tidak langsung ke misi utamaku ada perasaan malu pada teman-teman kalau begitu datang langsung menanyakan tentang gadis tadi.
“Gimana malam ini banyak gak cewek-cewek yang lewat dan bisa kalian goda?” Tanyaku memancing mereka.
“Yaaa… gitu deh masih seperti kemarin-kemarin satu dua tapi gak ada yang sip” Kata Reza, wah celaka pikirku mereka tidak termakan jebakanku, otakku segera berpikir untuk menyiapkan pertanyaan jebakan berikutnya tapi sebelum menemukan pertanyaan selanjutnya Andre menyahut.
“Ada brow… tadi ada cewek belajar naik motor sama bokapnya cakep banget tetangga kampung kita, Reza aja yang matanya perlu dibawa ke dokter nggak ngeliat cewek cakep lewat” Katanya, jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dalam hatiku bersorak kegirangan penuh kemenangan.
“Emang siapa… kau kenal sama cewek itu?” tanyaku, Aku berharap salah satu dari sahabatku ini tau tentang siapa anak gadis itu.
“Namanya Dewi dia masih sekolah di Gunungsari, dia mondok di sana makanya jarang kelihatan mungkin seminggu sekali baru pulang” Kata Andre.
“Kok Aku gak pernah lihat SMPnya ya… padahal kalian tau sendiri rumahku di depan dekat jalan raya setiap anak SMP yang mau berangkat atau pulang sekolah pasti lewat jalan depan rumahku” Kataku, Aku juga heran kenapa waktu gadis itu masih SMP Aku tidak pernah melihatnya.
“Kayanya kau juga harus periksa ke dokter spesialis mata brow” Kata Andre.
“Besok kita barengan ya Za periksa ke dokter mata hehehehe” kataku.
“Sialan kau” Kata Reza.
“Mau nyanyi apa nih?” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Dewa” Kata Andre.
Dan kami pun hanyut dalam alunan lagu-lagunya Dewa yang kami mainkan, walau kedua tangan ku sibuk memainkan gitar dan mulutku tak henti-hentinya bernyanyi namun hatiku selalu terbayang wajah gadis yang tadi sore belajar naik motor tadi, dalam setiap petikan senar gitarku seakan memainkan melody tentang gadis yang kata Andre bernama Dewi itu.
Malam makin larut dan hampir tengah malam rasa kantuk pun mulai menyerang.
“Brow cabut yuk… dah ngantuk nih” Kata Reza.
“Ayo… kayanya Aku juga sudah ngantuk” Kataku.
“Aku tidur di rumahmu ya brow” Kata Andre.
“Sip nggak papa, kau tidak ikut tidur di rumahku Za?” tanyaku.
“Nggak ah… Aku masih punya rumah emangnya Andre hehehehe” Kata Reza sambil ngeloyor pergi.
“Ayo tak bonceng” Kataku.
“Oke” Kata Andre.
Sesampainya di rumah Andre langsung masuk ke kamarku sedang aku masuk ke dapur mencari sesuatu yang bisa dibuat mengganjal perut, tapi nihil aku kembali ke kamar tidur dengan tangan hampa kulihat Andre sudah tertidur pulas, kuputar radio tua yag tergeletak di atas meja kamarku kucari gelombang radio yang memutar lagu-lagu romantis sepertinya aku sedang jatuh cinta, Dewi…
Aku jatuh cinta
Tuk kesekian kali
Tapi kali ini kurasakan
Cinta sesungguhnya
Suara Once membawakan syair lagu ini mengantarku ke alam mimpi, bertemu dengan bidadari cantik bernama Dewi yang telah mengepakan sayap cintanya di hatiku, rasa cinta yang tiga bulan lalu telah hilang kini mulai bersemi kembali dan Dewi lah yang menyemai benih cinta ini, walau masih jauh harapan untuk memetik buah cinta itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, benih cinta yang Dewi semaikan kian tumbuh subur di hatiku namun kesempatan untuk menuai asa itu masih hanya sebatas angan. Aku tidak punya nyali untuk sekedar mendekatinya jangan kan mengungkapkan rasa memandang wajahnya saja aku tidak kuasa, Aku merasa minder dan kepercayaan diri yang selama ini jadi modal utamaku musnah terkalahkan oleh seraut wajah manisnya yang kian menggoda.

Satu pagi di musim kemarau…
Seperti pagi-pagi sebelumnya aku bangun kesiangan, dengan segala cara Ibuku berusaha membangunkan tidurku setelah berjuang hampir satu jam akhirnya Ibuku berhasil juga membangunkan tidurku.
“Cepat bangun sudah siang bantu Ibu ambil air sekarang musim kemarau Ibu mau nyuci tidak ada air” Kata Ibuku.
“Iya iya buk” Kataku sambil mencoba membuka mataku yang masih terasa berat.
“Sarapan dulu tadi Ibu bikin nasi goreng” Kata Ibuku.
“Nanti saja Bu, ambil air dulu katanya Ibu mau nyuci gak ada air” Kataku, sambil meraih dua tong tempat air. Memang di daerah kami jika musim kemarau datang air bersih jadi kebutuhan pokok kami sumur pompa di rumah kami sudah kering tidak mampu lagi mengeluarkan air dengan terpaksa kami harus rela antri untuk mengambil air bersih di sumur Balai desa.
Sesampainya di sumur Balai desa Aku segera mengantri tiba-tiba dadaku bergetar detak jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya darahku mengalir sangat deras, sebab antrean di depanku adalah bidadari yang selama ini menancapkan sayap cinta di hatiku, aku coba menyapanya.
“Ngangsu Dewi?” Pertanyaan yang sangat bodoh keluar dari mulutku.
“Nggak ngarit” Jawabnya ketus, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
“Mati Aku” Kataku dalam hati, penantianku selama berbulan-bulan untuk sekedar bisa mengakrabkan diri hanya berakhir dengan kebisuan, rasa minderku kian memuncak membuat aku jadi manusia paling bodoh di dunia, Aku tidak mampu melanjutkan kata—kataku lagi karena mulutku terasa terkunci oleh jawaban ketusnya tadi.
Akhirnya tong tempat air milik Dewi penuh dan sekarang giliranku mengambil air, Dewi pun pergi dengan menggoreskan selaksa kekecewaan. Hari yang kelabu…
Sebenarnya banyak sekali kesempatan untuk mendekatinya karena setiap hari Aku melihat Dewi mengantarkan adiknya yang sekolah TK di dekat rumahku, namun Aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya jadi pengagum dari jauh saja dan yang membuatku merasa sangat minder Kudengar Dewi adalah seorang cewek yang sering berganti pacar dan dari semua pacarnya tidak ada yang tidak punya motor semua anak orang berada jauh dibandingkan dengan keadaanku, di tempat nongkrongku semua mantan Dewi menceritakan hal-hal tentang Dewi dari hal yang pantas diceritakan sampai hal yang tidak pantas diceritakan hingga perasaan minder itu semakin menjadi, Aku hanya bisa membayangkan seandainya Aku lah yang bercerita di hadapan teman-temanku bukan hanya sebagai pendengar, walau banyak cerita-cerita miring tentang Dewi entah mengapa hal itu tidak pernah mengurangi perasaanku padanya.
Buku harianku penuh dengan catatan tentang Dewi karena hanya itulah yang bisa aku lakukan agar aku tetap merasa dekat denganya dalam setiap tarikan nafas dalam doaku, Aku hanya memohon kepada Tuhan suatu saat diberikan kesempatan untuk bisa masuk dalam kehidupanya, dan Aku sangat yakin jika Tuhanku adalah Maha pengabul doa kalaupun toh tidak dikabulkan hari ini, mungkin besok atau lusa jika tidak, bisa jadi nanti di akhirat, sebait doa yang selalu ku panjatkan…
Tuhan….
Terimakasih Engkau telah anugerahkan padaku perasaan ini terhadapnya
Walaupun tiada pernah Engkau bukakan pintu hatinya untuku
Aku sudah cukup bahagia untuk sekedar jadi pengagumnya
Kalaupun Dewi bukan jodohku di dunia ini
Hamba mohon empat puluh bidadari yang Engkau janjikan nanti di surga
Salah satunya adalah Dewi…
Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar