Translate

Rabu, 08 Januari 2020

TERPENDAM


"Tanpa Sebab Aku Mencintaimu"
Malam mulai menjelang, sang surya yang terang benderang tadi terganti oleh redupnya sang rembulan, di teras rumah di kursi reot hasil bikinanku tiga tahun yang lalu aku duduk termenung, hanya diteman gitar tua diseblahku.  “Hmmm.. aku masih jomblo” gumanku dalam hati. Sesekali tetangga yang lewat di depan rumah menyapaku, aku hanya menjawab sekenanya saja karena aku sedang malas beramah ria saat ini. Aku ingin menikmati kesendirianku karena memang sekarang aku lagi sendiri tanpa ada satu hati pun yang mengisi hari-hari ku.
Kenangan tentang mantan kekasih yang tiga tahun lalu memutusku melintas dalam benaku, aku berharap bisa mengusir bayangan itu dari benaku, memang tidak sepenuhnya berhasil tapi setidaknya aku sudah berusaha.
Satu dua motor yang lewat hanya tambah membuatku merasa iri, mengapa sampai lulus MA aku belum pernah merasakan punya motor, ego mudaku mengalahkan realita aku tidak mau menyadari keadaan ekonomi keluarga kami, padahal untuk menyekolahkanku sampai lulus MA saja bapak harus rela berpanas-panasan di proyek dan ibu harus ikhlas berletih mencuci pakain tetangga. Gara-gara tidak punya motor inilah tiga tahun lalu aku diputusin, setidaknya itulah yang ada dalam pikiranku, memang dia tidak mengungkapakan alasan ini sebagai alasan memutusku, tapi selang satu hari setelah dia memutuskan cintanya aku melihat dia sedang menggelayut mesra di punggung seorang cowok di atas motor bagiku itulah bukti otentik yang tersirat walau tidak tersurat.
Dari arah selatan rumah terdengar suara motor seakan mengejek dan menertawaiku, kuraih gitar usang yang sejak tadi tergeletak di sampingku memang benda ini lah satu-satunya sahabat sejatiku gitar usang ini siap setiap saat menemaniku dalam suka maupun duka, dulu ketika masih bersama orang yang kin telah menjadi mantan kekasihku kami sering bernyanyi bersama dengan ditemani benda ini, sekarang aku sedang sendiri juga ditemani benda ini.
Aku ingin memainkan gitar ini sekeras-kerasnya agar suara mesin motor yang makin lama makin mendekat tidak terdengar di telingaku, dan motor itu lewat juga di depanku tapi ada yang istimewa, bukan motornya tapi pengendaranya kulihat seorang gadis sedang belajar naik motor diajari oleh bapaknya. Aku kenal bapaknya tapi tidak tahu kalau bapak itu punya anak gadis karena memang tetangga jauh jadi wajar saja kalau aku tidak tau.
Tiba-tiba ada perasaan aneh menjalar di hatiku entah mengapa aku ingin tau lebih banyak tentang anak gadis itu, segera otaku kupaksa untuk berpikir keras bagaimana caranya aku dapat informasi tentang anak gadis bapak itu sampai akhirnya aku menemukan caranya. Tempat nongkrong… ya tempat itulah satu-satunya cara agar aku bisa menggali informasi tentang anak gadis itu, Aku pun segera berdiri kusambar sepeda onthelku ku kayuh menuju tempat nongkrong di pertigaan dekat warung.


“Tumben datang terlambat biasanya kau absen paling dulu” tegur Reza.
“Biasa Za…. kasih kesempatan teman yang lain masak predikat pecangkruk teladan selalu aku raih sekali- kali temen yang lainya lah” jawabku berdiplomasi.
“Ah paling kau habis diceramahi Bapakmu ya?” Andre ikut menimpali.
“Sembarangan aja gini-gini Aku anak kesayangan tau” jawabku.
“Kesayangan apa? Kemarin buktinya kau habis disiram air” Andre tidak mau kalah.
“Itu biar aku subur, tanaman kalau sering disiram kan jadi subur” Kelitku, padahal benar kata Andre kemarin Aku habis di siram air tapi bukan karena Bapak tidak sayang Aku.
“Memang kau ini pantesnya jadi pengacara” Kata Reza.
“Laah ini sudah jadi pengacara pengangguran banyak acara” Kataku, memang sengaja Aku tidak langsung ke misi utamaku ada perasaan malu pada teman-teman kalau begitu datang langsung menanyakan tentang gadis tadi.
“Gimana malam ini banyak gak cewek-cewek yang lewat dan bisa kalian goda?” Tanyaku memancing mereka.
“Yaaa… gitu deh masih seperti kemarin-kemarin satu dua tapi gak ada yang sip” Kata Reza, wah celaka pikirku mereka tidak termakan jebakanku, otakku segera berpikir untuk menyiapkan pertanyaan jebakan berikutnya tapi sebelum menemukan pertanyaan selanjutnya Andre menyahut.
“Ada brow… tadi ada cewek belajar naik motor sama bokapnya cakep banget tetangga kampung kita, Reza aja yang matanya perlu dibawa ke dokter nggak ngeliat cewek cakep lewat” Katanya, jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dalam hatiku bersorak kegirangan penuh kemenangan.
“Emang siapa… kau kenal sama cewek itu?” tanyaku, Aku berharap salah satu dari sahabatku ini tau tentang siapa anak gadis itu.
“Namanya Dewi dia masih sekolah di Gunungsari, dia mondok di sana makanya jarang kelihatan mungkin seminggu sekali baru pulang” Kata Andre.
“Kok Aku gak pernah lihat SMPnya ya… padahal kalian tau sendiri rumahku di depan dekat jalan raya setiap anak SMP yang mau berangkat atau pulang sekolah pasti lewat jalan depan rumahku” Kataku, Aku juga heran kenapa waktu gadis itu masih SMP Aku tidak pernah melihatnya.
“Kayanya kau juga harus periksa ke dokter spesialis mata brow” Kata Andre.
“Besok kita barengan ya Za periksa ke dokter mata hehehehe” kataku.
“Sialan kau” Kata Reza.
“Mau nyanyi apa nih?” Kataku mencoba mengalihkan pembicaraan. “Dewa” Kata Andre.
Dan kami pun hanyut dalam alunan lagu-lagunya Dewa yang kami mainkan, walau kedua tangan ku sibuk memainkan gitar dan mulutku tak henti-hentinya bernyanyi namun hatiku selalu terbayang wajah gadis yang tadi sore belajar naik motor tadi, dalam setiap petikan senar gitarku seakan memainkan melody tentang gadis yang kata Andre bernama Dewi itu.
Malam makin larut dan hampir tengah malam rasa kantuk pun mulai menyerang.
“Brow cabut yuk… dah ngantuk nih” Kata Reza.
“Ayo… kayanya Aku juga sudah ngantuk” Kataku.
“Aku tidur di rumahmu ya brow” Kata Andre.
“Sip nggak papa, kau tidak ikut tidur di rumahku Za?” tanyaku.
“Nggak ah… Aku masih punya rumah emangnya Andre hehehehe” Kata Reza sambil ngeloyor pergi.
“Ayo tak bonceng” Kataku.
“Oke” Kata Andre.
Sesampainya di rumah Andre langsung masuk ke kamarku sedang aku masuk ke dapur mencari sesuatu yang bisa dibuat mengganjal perut, tapi nihil aku kembali ke kamar tidur dengan tangan hampa kulihat Andre sudah tertidur pulas, kuputar radio tua yag tergeletak di atas meja kamarku kucari gelombang radio yang memutar lagu-lagu romantis sepertinya aku sedang jatuh cinta, Dewi…
Aku jatuh cinta
Tuk kesekian kali
Tapi kali ini kurasakan
Cinta sesungguhnya
Suara Once membawakan syair lagu ini mengantarku ke alam mimpi, bertemu dengan bidadari cantik bernama Dewi yang telah mengepakan sayap cintanya di hatiku, rasa cinta yang tiga bulan lalu telah hilang kini mulai bersemi kembali dan Dewi lah yang menyemai benih cinta ini, walau masih jauh harapan untuk memetik buah cinta itu.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, benih cinta yang Dewi semaikan kian tumbuh subur di hatiku namun kesempatan untuk menuai asa itu masih hanya sebatas angan. Aku tidak punya nyali untuk sekedar mendekatinya jangan kan mengungkapkan rasa memandang wajahnya saja aku tidak kuasa, Aku merasa minder dan kepercayaan diri yang selama ini jadi modal utamaku musnah terkalahkan oleh seraut wajah manisnya yang kian menggoda.

Satu pagi di musim kemarau…
Seperti pagi-pagi sebelumnya aku bangun kesiangan, dengan segala cara Ibuku berusaha membangunkan tidurku setelah berjuang hampir satu jam akhirnya Ibuku berhasil juga membangunkan tidurku.
“Cepat bangun sudah siang bantu Ibu ambil air sekarang musim kemarau Ibu mau nyuci tidak ada air” Kata Ibuku.
“Iya iya buk” Kataku sambil mencoba membuka mataku yang masih terasa berat.
“Sarapan dulu tadi Ibu bikin nasi goreng” Kata Ibuku.
“Nanti saja Bu, ambil air dulu katanya Ibu mau nyuci gak ada air” Kataku, sambil meraih dua tong tempat air. Memang di daerah kami jika musim kemarau datang air bersih jadi kebutuhan pokok kami sumur pompa di rumah kami sudah kering tidak mampu lagi mengeluarkan air dengan terpaksa kami harus rela antri untuk mengambil air bersih di sumur Balai desa.
Sesampainya di sumur Balai desa Aku segera mengantri tiba-tiba dadaku bergetar detak jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya darahku mengalir sangat deras, sebab antrean di depanku adalah bidadari yang selama ini menancapkan sayap cinta di hatiku, aku coba menyapanya.
“Ngangsu Dewi?” Pertanyaan yang sangat bodoh keluar dari mulutku.
“Nggak ngarit” Jawabnya ketus, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku.
“Mati Aku” Kataku dalam hati, penantianku selama berbulan-bulan untuk sekedar bisa mengakrabkan diri hanya berakhir dengan kebisuan, rasa minderku kian memuncak membuat aku jadi manusia paling bodoh di dunia, Aku tidak mampu melanjutkan kata—kataku lagi karena mulutku terasa terkunci oleh jawaban ketusnya tadi.
Akhirnya tong tempat air milik Dewi penuh dan sekarang giliranku mengambil air, Dewi pun pergi dengan menggoreskan selaksa kekecewaan. Hari yang kelabu…
Sebenarnya banyak sekali kesempatan untuk mendekatinya karena setiap hari Aku melihat Dewi mengantarkan adiknya yang sekolah TK di dekat rumahku, namun Aku tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya jadi pengagum dari jauh saja dan yang membuatku merasa sangat minder Kudengar Dewi adalah seorang cewek yang sering berganti pacar dan dari semua pacarnya tidak ada yang tidak punya motor semua anak orang berada jauh dibandingkan dengan keadaanku, di tempat nongkrongku semua mantan Dewi menceritakan hal-hal tentang Dewi dari hal yang pantas diceritakan sampai hal yang tidak pantas diceritakan hingga perasaan minder itu semakin menjadi, Aku hanya bisa membayangkan seandainya Aku lah yang bercerita di hadapan teman-temanku bukan hanya sebagai pendengar, walau banyak cerita-cerita miring tentang Dewi entah mengapa hal itu tidak pernah mengurangi perasaanku padanya.
Buku harianku penuh dengan catatan tentang Dewi karena hanya itulah yang bisa aku lakukan agar aku tetap merasa dekat denganya dalam setiap tarikan nafas dalam doaku, Aku hanya memohon kepada Tuhan suatu saat diberikan kesempatan untuk bisa masuk dalam kehidupanya, dan Aku sangat yakin jika Tuhanku adalah Maha pengabul doa kalaupun toh tidak dikabulkan hari ini, mungkin besok atau lusa jika tidak, bisa jadi nanti di akhirat, sebait doa yang selalu ku panjatkan…
Tuhan….
Terimakasih Engkau telah anugerahkan padaku perasaan ini terhadapnya
Walaupun tiada pernah Engkau bukakan pintu hatinya untuku
Aku sudah cukup bahagia untuk sekedar jadi pengagumnya
Kalaupun Dewi bukan jodohku di dunia ini
Hamba mohon empat puluh bidadari yang Engkau janjikan nanti di surga
Salah satunya adalah Dewi…
Sekian.

Selasa, 07 Januari 2020

WAKTU BELUM BERPIHAK


Seorang perempuan dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil berbalut jaket jeans tengah berjalan menuju sebuah meja dengan seorang penghuni, laki-laki berjaket hitam. Segelas milkshake coklat yang tinggal setengah terdapat di mejanya, tanda laki-laki itu sudah lama menunggu. Seulas senyum ia tunjukkan begitu mata almond laki-laki itu menatapnya.

Sang laki-laki berdiri, menyambut hangat gadis itu dengan pelukan. “Aku kira kamu nggak dateng,” ucapnya dan menarik kursi untuk gadis berambut sebahu itu duduk. “Mau minum apa?” ia lanjut bertanya.
“Nanti aja,” jawab gadis itu setelah duduk. Masih tersenyum, ditatapnya laki-laki itu lekat-lekat.
“Kenapa?” tanyanya seraya balas memandang lensa coklat pekat milik perempuan di hadapannya.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia merasa deja vu. Suasana di dalam restoran pun sama: pencahayaan remang-remang dengan latar belakang musik klasik, seolah telah menjadi ciri khas tempat tersebut. Malam ini, terasa seperti sore itu. Dua bulan yang lalu.

“Aku mau kita putus,” tukasnya tanpa melihat kekasihnya.
Tubuh tegap sang laki-laki menegak, terkejut akan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?”
“Aku mau berhenti, Hadi.” Suara gadis itu bergetar, disusul dengan isakan kecil yang semakin menjadi.
Laki-laki itu, Hadi, mengamil tangan perempuan itu dan menggenggamnya. “Hei… kita udah sejauh ini, inget? Jangan nyerah, ya? Aku mohon?” bujuknya dengan halus.
“Harus sampai kapan, Dan?” ia bertanya di sela tangisnya.
“Sebentar lagi. Aku mohon bantu aku.” Hadi memelas. Dilepasnya genggaman itu, beringsut dari duduknya, dan beralih memegang kedua bahu gadis mungil di hadapannya. Ia tersenyum. “Aku mohoh… ya?”

“Dewi?”
Dewi, gadis itu, mengerjap. “Iya, Di?”
Laki-laki itu terkekeh, dicubitnya pipi tembam Dewi. “Kenapa malah ngelamun?”
“Nggak apa-apa,” jawab Dewi sekenanya.

Hadi tahu fakta itu: “saat seorang perempuan berkata “tidak apa-apa” berarti dia sedang tidak baik-baik saja”. Maka dari itu, ia diam. Membiarkan Dewi berkelit dengan pikirannya sendiri, membiarkan gadis itu menenangkan diri terlebih dulu. Meski diam-diam, ia berpikir:
Apa masalah yang sedang mendera Dewi?

Hening menghiasi kedua orang itu untuk sesaat. Sebelum akhirnya gadis itu berujar, “Kamu… kenapa minta ketemu dadakan, gini?”
Hadi menggeleng dan tersenyum. “Salah ya kalo aku cuma mau ketemu sama pacar aku sendiri?”
Mendengar laki-laki itu menyebutkan kata “pacar”, membuatnya teringat akan sesuatu. “Kemarin, kamu kemana waktu aku telepon?”

Ada jeda sejenak sebelum Hadi menjawab, “Maaf.”
Dan hanya karena satu kata itu, Dewi tahu artinya apa.

Lagi, ia menyunggingkan senyum. “Tau nggak, Di? Waktu kamu minta aku buat jadi pacar kamu, aku kaget sekaligus bingung; apa aku harus nolak atau nerima? Karena gimanapun juga, aku nggak mau persahabatan yang udah terjalin dari kita kecil, hancur nantinya. Tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa bohongin perasaanku sendiri.

“Waktu kamu putus sama Gina, aku seneng. Maaf kalo aku jahat. Tapi, ya tadi, aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Maka dari itu, setelah mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun. Aku meyakinkan diri buat nerima kamu.

“Nggak nyangka ya, Di! Udah setahun lebih. Seharusnya aku seneng bisa jadi pacar kamu. Tapi, kenapa makin kesini makin menyakitkan?”
Gadis itu diam sejenak, mengambil napas untuk mengisi dadanya yang mulai sesak.

“Dulu, aku terlalu percaya diri bisa buat kamu move on. Tapi nyatanya? Kemarin kamu kelihatan seneng banget waktu ketemu Gina di mall.”
Mata Hadi melebar mendengarnya.

“Iya, aku tau. Nggak pa-pa.”
“Dewi..”
“Kamu… masih terjebak di jurang masa lalu, Hadi. Kamu minta tolong aku buat meraih tangan kamu, sekuat tenaga aku coba untuk mengulurkan tangan agar kamu meraihnya. Nyatanya, kamu Cuma diam di sana tanpa mau berusaha naik agar mencapai tanganku. Mau sampai kapanpun, kalau kamu terus seperti itu, tangan kita nggak akan pernah saling menggenggam. Sederhananya, kamu masih nyaman berada di jurang itu, Di.”
Laki-laki itu diam. Dalam hati, ia membenarkan apa yang Dewi ucapkan. Tapi itu dulu, sebelum ia bertemu Gina kemarin.

“Aku mau nyerah aja.” Buliran bening mulai menumpuk di pelupuk mata gadis itu. “Aku nyerah, Dan.”

Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Dia berlutut di depan perempuan yang matanya semakin memerah karena menahan tangis, pelan-pelan, diraihnya tangan Dewi. Gadis itu berusaha menolak, namun genggaman Hadi mengerat. “Sebentar lagi, ya? Please?”

Setetes air mata lolos membasahi pipi tembam Dewi. Dia menggeleng lemah. “Nggak bisa…” suaranya terdengar lirih, seakan tidak memiliki tenaga lagi.

Hadi mendesah kecewa. Dia terlambat.
Dengan berat hati, ia mengangguk. Padahal, kemarin ia bertemu Gina hanya untuk memastikan. Dan terbukti, bahwa perasaannya telah berpindah kepada sahabat masa kecilnya itu, Dewi. Namun, ia tidak mau menyakiti gadis itu lebih lagi. Dewi telah melakukan banyak untuknya.
Sekarang, ia akan berusaha sendiri. Untuk Dewi. Tanpa orang lain tahu, tanpa gadis itu tahu. Ia harap, suatu saat, waktu akan berpihak kepada mereka berdua.

“Maaf ya,” ucapnya pada Dewi. “Maaf udah nyakitin kamu. Maaf buat semuanya.” Diusapnya sisa air mata gadis itu.
Dewi tertawa purau, dia mengangguk. Perasaan lega menelusup ke dalam dadanya. Bukan berarti ia tidak mencintai laki-laki itu lagi. Hanya saja, ia lelah berpacaran dengan seseorang yang tidak mencintainya. Padahal, tanpa gadis itu tahu, persepsinya salah. Dan mungkin, waktu belum berpihak kepada mereka berdua.
“Tapi kita tetep sahabat, kan?” Hadi bertanya, dibalas anggukan oleh Dewi. Lantas keduanya tertawa dan bercanda pada sisa malam itu.

“Kadang memang selucu itu. Berakhirnya sebuah hubungan akan membentuk hubungan baru, membaik atau memburuk, tergantung pada kedewasaan masing-masing pihak”.

Minggu, 05 Januari 2020

CINTA DAN SI WAKTU


Pada suatu hari disebuah pulau yang bernama “Hidup”,..tinggalah berbagai macam benda-benda abstrak : “Cinta, Kekayaan, Kecantikan, Kesedihan, dan Kegembiraan…”. Pada awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi.  Namun suatu ketika, datanglah badai yang menghempaskan pulau kecil itu. Air laut tiba-tiba naik semangkin tinggi dan akan menenggelamkan pulau kecil itu.  Semua penghuni pulau itu cepat-cepat berusaha untuk menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu.
Ia berdiri ditepi pantai mencoba untuk mencari pertolongan. Sementara itu air laut makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan ! Kekayaan ! Kekayaan ! Tolong aku !” teriak Cinta.  Lalu apa jawab Kekayaan, “Aduh ! Maaf, Cinta !” kata Kekayaan. “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku.
Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini akan tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”  Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan Cinta tenggelam.
Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan ! Tolong aku !”, teriak Cinta.  Namun apa yang terjadi, Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia menjadi tuli tak mendengar teriakan Cinta. Air laut semangkin tinggi membasahi Cinta sampai kepinggang dan Cinta semangkin panik.  Tak lama kemudian lewatlah Kecantikan. “Kecantikan ! Bawalah aku bersamamu !”, teriak Cinta.
Lalu apa jawab Kecantikan, “Wah, Cinta kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut.
Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya.
Cinta mulai menangis terisak-isak, “Apa kesalahanku, mengapa semuanya melupakan aku.”
Saat itu lewatlah Kesedihan..
Lalu Cinta memelas, “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.
Lalu apa kata Kesedihan,”Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…..”, kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa…
Ia merasakan air laut semangkin naik dan akan menenggelamkannya.  Cinta terus berharap kalau dirinya dapat diselamatkan.
Lalu ia menangis dan memohon pertolongan,..  “Tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa Cinta ?”.
Pada saat yang kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta ! Mari cepat naik keperahuku !”.
Cinta menoleh kearah suara itu dan melihat sebentuk benda abstrak asing, sedang mengayuh perahunya. Lalu cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Kemudian di pulau terdekat, benda Abstrak asing itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi.
Pada saat itu barulah Cinta sadar, bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa benda Abstrak
asing baik hati yang telah menyelamatkannya itu.

Cinta segera menanyakannya pada seorang penduduk dipulau itu, siapa sebenarnya Benda abstrak asing itu.
“Oh, Benda abstrak asing tadi ?
Dia adalah “Waktu”, kata orang itu.
Lalu Cinta bertanya “Tapi, mengapa ia menyelamatkan diriku ? Sedangkan aku tidak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun tidak mau menolongku”, tanya Cinta heran.
“Sebab”, kata orang itu, “hanya Waktulah yang tahu..”
“BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA..”.

Jumat, 03 Januari 2020

“SEANDAINYA, RINDU ITU BERBAHASA"


Dia menemukannya pada salah satu gambar. Pada satu layar yang memuat dengan jelas keceriaan dan keakraban. Sepertinya sebuah pertemuan. Reuni. Ada banyak orang. Ada banyak tawa dengan ekspresi bermacam rupa. Juga berlimpah makanan yang digenggam, juga disajikan.
Jadi seperti ini? Syukurlah. Setidaknya dia bahagia. Sepertinya.
Tangannya kembali menutup aplikasi. Sedikit menggeser jemarinya ke icon note dan mulai menyusun kata. Ada sesuatu yang harus ia salurkan. Ada sesuatu yang melompat seketika dari pikirannya. Ia tahu, jika diabaikan, loncatan itu hanya akan berakhir seperti debu diterbangkan angin. Tanpa makna. Tanpa rasa.
Jadi, sudah seperti inikah warna hari? Tak perlu ada pelangi karena hujan tak kunjung tiba. Tak perlu ada semi karena musim sudah jauh tertinggal di belakang. Semua seperti kembali pada awal mula. Dari asing menuju asing. Dari biasa menuju terbiasa.
Matanya sedikit menerawang. Diperhatikannya kembali gambar itu sekilas sebelum menutupnya.
Bahkan untuk memandangmu pun, aku selalu tak bisa lebih lama dari sedetik!
Jalanan masih lengang. Hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan kecepatan lumayan. Hari Ahad seperti sekarang sedikit sekali orang yang mau keluar. Sepertinya, semua orang menyepakati jika inilah saat untuk bersama-sama dengan keluarga di rumah, sekedar bercengkrama, menghabiskan quality time dengan orang terkasih. Tapi, kesunyian yang merajam tetap takkan terganti. Itulah sebab dia keluar. Menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah kafe di depan mall, menyesap (mengisap seperti burung) double espresso, dan memantau lini masa dari tab-nya. Bahkan aku tak tahu bagaimana harus menyampaikan rindu. Kosakata itu terlalu tua di bibirku yang tak punya kekuatan untuk berkata.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kuungkapkan meski ketergesaan seringkali membunuh dan merampas hidup. Aku ada. Hari ini. Menjalani hari masih dengan semangat matahari. Tak lelah. Tak ragu. Tak undur meski kadang banyak penghalang jalan.
Berhenti, waktu. Sejenak saja. Ada yang harus kusampaikan. Sekadar menguraikan penat yang bersarang atau untuk bersapa ria pada dunia. Aku ada. Hanya seringkali tak disadari karena aku seperti sembunyi. Karena, dalam ketakterdeteksian angka-angka dan rupa, aku menemukan diri menjadi lebih berbeda. Setidaknya, agar aku belajar mengenal kosakata itu lebih dari siapa pun yang pernah mengecap rasanya. Untuknya, yang dekat di mata hangat di hati, tapi tak pernah bisa mengungkapkannya. Kosakata rindu masih terlalu liat di bibirku yang tak mengenal keberanian untuk berujar.

aku tahu kamu tak mau mengaku.
aku tahu kamu sudah lama rindu.
pada diriku, teman baikmu, yang sebenarnya juga lama menunggumu.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya
engkau tahu aku memang agak pemalu.
engkau tahu aku yang juga merindu.
pada dirimu, teman baikku, yang seharusnya juga tahu tentang aku.
seandainya cinta tidak harus diungkapkan dengan kata
seandainya cinta ada sejuta rasa tuk berikannya.
Dan tak perlu tahu sejauh itu untuk tahu bahwa rindu kadang tak bisa dibahasakan….

Kamis, 02 Januari 2020

APAKAH HUJAN CENGENG?


“Hujan tak pernah cengeng”.
Begitu katanya. Dingin, menusuk, tanpa perasaan. Itu kalimat terpanjang yang dia ucapkan setelah lima menit datang, menepuk dahinya sendiri, lantas terdiam. Dia duduk di ujung bangku sebelah kanan, menopang dagunya dengan dua kepal tangannya yang disatukan sementara ujung lengannya menyentuh ujung paha. Badannya sedikit membungkuk seperti pose orang-orang cerdas sedang termenung dan memikirkan keputusan penting. Sayangnya, dia tidak cerdas. Tidak juga pintar membaca perasaan.
“Kamu masih sedih? Berulangkali harus kukatakan, tak perlu ada yang disedihkan dari perpisahan. Itu lumrah, kan?”
Aku menatapnya sengit. Dia tidak merasakan kesedihan ini masalahnya. Seenaknya ngomong, seenaknya mencela, seenaknya pula sok-sokan menasehati. Kalau saja ada seseorang yang lebih bisa kuandalkan daripadanya, aku jelas takkan menghubunginya, terlebih di saat-saat seperti ini.
“Dia lebih memilih pergi kan? Ya sudah. Berarti dia tidak pernah memilihmu. Dia mementingkan dirinya sendiri dibanding kamu. Apa lagi? Mau nangis sampai kapan coba?”
Omelannya menjengkelkan. Tak membantu. Sungguh. Ingin sekali aku berteriak dan mengatakan padanya bahwa bukan omelan menyebalkan seperti itu yang kubutuhkan. Aku hanya ingin ada teman. Hanya ingin ada seseorang yang tahu bahwa aku bisa kembali berdiri, serapuh apapun keadaan yang menderaku. Sayangnya, lagi-lagi, aku salah memilih orang. Selalu dia yang pertama kali kuhubungi. Selalu nomornya yang teringat di kepalaku. Lalu, tanpa pernah menunggu lama, dia datang, duduk sebentar, mengamati, lantas ngomel panjang lebar setelah lama mendiamkan.
“Kamu tuh lucu. Orang nggak ada rasa sama kamu masih saja kamu kejar. Sapi saja tak akan masuk ke lubang yang sama dua kali. Kamu? Berulangkali. Ngeyel sih! Tak pernah mau dengar kata orang.”
Mataku masih berderai. Tapi kali ini bercampur satu hal lagi. Ocehannya yang mendadak terasa benar meskipun menusuk jiwa raga.
“Sekarang, aku janji ini untuk terakhir kalinya aku datang jika masalahmu masih saja berurusan dengannya. Ini janjiku, Hadi. Aku takkan lagi mau datang jika tangismu hanya karena dia.”
Aku menghela napas panjang dengan mata terpejam. Perih ini menjadi. Baru beberapa saat lalu seseorang yang sejak dulu kuanggap matahari pergi meninggalkanku. Alasannya sederhana. Dia harus lebih meningkatkan kualitas eksistensi keilmuannya. Beberapa menit dari sekarang, dia akan terbang ke daratan antah berantah. Mengepakkan sayapnya sendiri, mengabaikan semua usahaku untuk mendekati, dan kini aku seperti debu yang merana di bandara.
Setidaknya, aku tahu diri untuk tak berlama-lama di bangku tunggu ini. Orang-orang lalu lalang. Kendaraan melaju dan berhenti menurunkan dan mengambil penumpang. Aku tahu bahwa banyak di antara mereka melihatku, menertawakan tangisku, tapi aku tak peduli. Aku tak bisa bersikap seperti Juliet yang mengejar Romeo, berteriak bahwa aku mencintainya. Semua terasa sangat asing sekarang. Perasaan ini. Rasa kehilangan ini. Seperti dandelion yang dihembus kencang dan berhamburan entah kemana. Aku keping dari diriku yang utuh. Dia telah pergi. Dan aku telah menjadi separuh hati.
 “Aku gak bawa sapu tangan ataupun tisue. Adanya cuma ini. Nih, pake!” Dia menyodorkan sebuah kaos padaku. Warna hitam. Tipikal. Mataku bertanya. Ujung dahunya terangkat seolah mengisyaratkan bahwa sudah seharusnya aku menyusut air mataku dengan kaosnya.
“Aku tunggu lima menit. Kamu segera benahi penampilanmu. Tuh, ada water closet di sebelah sana…”
Dia menunjuk sebuah tempat. Aku mengusap hidungku. Beranjak. Tanpa kata. Ini kali kelima aku menghubunginya dan selalu berakhir seperti ini. Aku tahu persis, setelah aku beres dengan membenahi penampilan, dia akan segera melarikan mobilnya ke toko kue, membiarkan aku merampok isi toko tersebut diselingi dengan dua gelas medium ice moccacino.
Hanya aku. Dia tidak.